Nganjuk, Memo
3 ekor sapi untuk kurban pada Idul Adha nanti, Minggu kemarin tiba tiba mati. Sapi sapi tersebut tewas berurutan, berselang hari dalam seminggu. Sapi mati terjadi di Desa Rowoharjo Kecaatan Prambon, Kabupaten Nganjuk. Tiga hari sebelumnya , di desa Kalianyar, Ngronggot, 5 ekor sapi juga mati akibat virus PMK.
Baca Juga: Ponpes Al Ubaidah Jadi Tuan Rumah Penutupan Safari Ramadan 1447 H/2026 M Pemkab Nganjuk
Belum lama ini, Plt Bupati NGanjuk Marhaen kepada wartawan, mengatakan bahwa di wilayah Nganjuk tidak ada kematin akibat PMK. Pernyataan Marhaein tersebut, disampaikan saat mengunjungi peternakan sapi milik salah satu pengusaha kaya di kota angin.
Namun, dalam waktu bersamaan, di beberapa desa, kasus kematian sapi akibat virus PMK terjadi di beberapa desa di beberapa wilayah, khususnya wilayah Nganjuk bagian timur dan Nganjuk bagian utara, tersebar di Kecamatan Prambon, Ngronggot, hingga Patianrowo dan Jatikalen.
Video Sapi Persiapan Kurban Mati, Ratusan Sapi Terserang PMK, Punya Anggaran BTT 40 Milyar, Bupati Belum Anggarkan Biaya Pengobatan
Informasi terbaru diketahui dengan beredarnya sebuah vidio berdurasi pendek menjelaskan dengan gamblang ada satu ekor sapi milik warga di Desa Rowoharjo Kecamatan Prambon tergeletak lemas sudah dalam kondisi mati dan siap dikubur oleh pemiliknya.
Pemilik bangkai sapi tersebut diketahui bernama Sucipto yang lokadinya berdekatan dengan Kantor Desa Rowoharjo. Dari unggahan vidio tersebut disebutkan kerugian materiil yang dialami peternak kisaran mencapai Rp 30 juta rupiah.
Baca Juga: Tragis Balita Empat Tahun Tewas Tenggelam di Empang Gresik Saat Asyik Bermain Sendirian
Dalam video yang beredar tersebut, juga menyampaikan bahwa sapi sapi yang dipersiapkan untuk kurban. Dibalik suara dalam video tersebut, juga disampaikan pesan agar semua pemilik sapi hati hati.
” Sebelum terkapar, sapi mengalami gejala sama seperti sapi sapi lainnya yaitu pada mulut mengeluarkan air liur banyak dan tidak bisa berdiri serta tidak doyan makan,” terang sejumlah warga setempat.
Selain di Desa Rowoharjo, kejadian kematian satu ekor sapi tersiar kabar muncul dari Desa Nglawak Kecamatan Prambon atas nama pemilik Ali Mahmudi. ” Kejadiannya sepekan yang lalu,” terang Ali saat ditemui di gedung pertemuan Desa Bandung, Prambon hari ini ( Minggu,26/06/2022).
Dengan kejadian itu kedua warga tersebut mengalami kerugian materiil mencapai puluhan juta rupiah. ” Yang saya tahu milik Pak Cip harganya sekitar 30 juta rupiah,” jelas warga setempat.
Ironisnya lagi, ternyata selain milik dua warga tersebut seperti vidio yang beredar di medsos menyebutkan jika di Desa Rowoharjo juga ada dua ekor sapi yang mati , namun tidak ada bukti dokumentasinya baik berupa foto atsu vidio.
Hanya disampaikan dua ekor sapi tersebut senilai Rp 50 juta rupiah.Jadi total kerugian tiga ekor sapi milik warga mencapai Rp 80 juta rupiah.
Pejabat di Pemkab Nganjuk Baru Tahu Setelah Dikirimi Video dari Warga
Ironisnya, musibah yang sudah mendera dan terjadi di banyak di desa di Kabupaten Nganjuk tersebut, tidak dianggap serius oleh pemerintah daerah setempat. Bahkan, pejabat perwewenang terhadap kesehatan peternakan di Kabupaten Nganjuk mengaku baru mengetahui, setelah ada video.
Dari keterangan Kasi Kesehatan Hewan ,drh, Neneng Susanti mengaku mengetahui kejadian ada satu ekor sapi mati di Desa Rowoharjo diketahuinya dari kiriman vidio.
” Saya dapat kiriman vidio itu tadi siang dari pak kadis. Akhirnya saya memerintahkan petugas di wilayah prambon untuk mrngcroscek kebenaran informasi tersebut,” terangnya.
Ada Anggaran BTT Rp. 40 Milyar, Bupati Nganjuk Belum Anggarkan Penanganan Virus PMK
Berbeda dengan beberapa daerah di Jawa Timur, yang sudah menganggarkan biaya pengobatan dan antisipasi terhadap berkembangbiaknya virus PMK, di Kabupaen Nganjuk belum dianggarkan. Misalnya, di Kab NGawi, yang mengalokasikan anggaran Rp. 6 Milyar dari Biaya Tak Terduga (BTT ) atau biaya alokasi bencana.
Sumber Memo di Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk menyampaikan bahwa belum tersedianya akses anggaran untuk pengobatan sapi sapi yang terserang virus PMK akibat proses administrasi yang hasrus diakukan oleh Pemkab Nganjuk ke Kemendagri.
” Dengan kondisi yang ada di Pemkab Nganjuk, dimana belum ada pejabat Bupati devinitif, semua harus dikoordinasikan melalui instansi terkait di pemerintah pusat.” kata sumber itu yang enggan disebut namanya. Pihak sekretariat di Pemkab Nganjuk, juga terlalu berhati hati, untuk menganggarkan melalui pos anggaran BTT.
Diketahui anggaran Biaya Tak Terduga (BTT) di Pemkab Nganjuk diperkirakan sebesar Rp. 40 Milyar. Anggaran sebesar itu, belum dikeluarkan, mengingat, selama tahun anggaran berjalan ini, belum ada kejadian dan musibah yang dikategorikan bencana.
Meski begitu, beberapa pihak dan pejabat di Nganjuk, mengaku bahwa PMK sebagai bencana nasional akibat wabah yang men menyerang ke peternakan milik petani dan peternak, khususnya sapi. ” Memang, PK ini sudah bisa dijadikan alasan untuk menganggarkan pengobatan untuk sapi sapi yang terserang PMK,” kata sumber tersebut.












