UKHSA juga mencatat bahwa varian Eris telah mengalami pertumbuhan yang signifikan hingga mencapai 20,5% dari jenis varian atau subvarian lainnya. Selain itu, varian ini juga menyumbang 14,6% dari total kasus Covid-19 dan menjadi varian paling umum kedua yang ditemukan di Inggris.
Namun, professor Paul Hunter, seorang spesialis penyakit menular, menilai bahwa saat ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa varian EG.5.1 akan berdampak besar pada kesehatan di Inggris. Beliau percaya bahwa pada suatu titik, varian ini dapat menjadi dominan dan meningkatkan jumlah infeksi secara keseluruhan, namun kemungkinannya tidak akan begitu dramatis.
Baca Juga: Konsisten Dukung TNI/ Polri KAI Daop 7 Madiun Berikan Diskon Tarif Mudik
Kasus Varian Omicron EG.5.1 atau Eris Meningkat di Inggris, WHO Beri Imbauan dan Tinjauan Ahli Terhadap Dampaknya
Kasus Covid-19 di Inggris kembali memunculkan keprihatinan setelah munculnya varian baru, subvarian Omicron EG.5.1 atau yang dikenal sebagai Eris. WHO turut mengawasi varian ini sebagai variant under monitoring (VUM) sejak bulan Juli karena tingkat prevalensinya yang meningkat.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengimbau pemerintah untuk mempertahankan dan tidak membongkar sistem penanganan Covid-19 yang telah dibangun sebelumnya. Selain itu, masyarakat yang berisiko tinggi juga diimbau untuk terus menggunakan masker di tempat umum dan mendapatkan suntikan dosis tambahan sesuai rekomendasi.
Baca Juga: H+2 Lebaran 1447H/ 2026 M, Volume Penumpang di Wilayah Daop 7 Madiun Pecah Rekor Capai Puluhan Ribu
Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mencatat peningkatan signifikan kasus dengan varian Eris yang menyumbang menjadi varian paling umum kedua di Inggris. Namun, ahli penyakit menular, seperti professor Paul Hunter, berpendapat bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan dampak varian ini secara dramatis pada kesehatan Inggris. Meskipun begitu, langkah pencegahan dan kewaspadaan tetap diperlukan dalam menghadapi varian baru ini.












