Example floating
Example floating
Infobis

Waspada! El Nino Menebas Produksi Padi, Bulog Bergantung pada Impor!

Alfi Fida
×

Waspada! El Nino Menebas Produksi Padi, Bulog Bergantung pada Impor!

Sebarkan artikel ini
Waspada! El Nino Menebas Produksi Padi, Bulog Bergantung pada Impor!
Waspada! El Nino Menebas Produksi Padi, Bulog Bergantung pada Impor!

MEMO

Guru Besar dan Kepala Pusat Bioteknologi IPB, Dwi Andreas Santosa, memprediksi bahwa fenomena kemarau berkepanjangan atau el nino akan mengakibatkan penurunan produksi padi sebesar 1,5 juta ton di Indonesia.

Baca Juga: Bank Indonesia Mengungkap Strategi Cerdas Hadapi Inflasi Bahan Pokok

Fenomena alam ini berdampak pada penurunan curah hujan global, termasuk di tanah air, dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada Agustus-September mendatang.

Untuk mengantisipasi kekurangan beras, Badan Urusan Logistik (Bulog) perlu meningkatkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP), karena stok beras saat ini masih jauh dari harapan, dan Bulog bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan beras.

Baca Juga: Terungkap! Rahasia Keputusan Drastis Pemerintah Saat El Nino Menghantui!

Fenomena El Nino Prediksi Guru Besar IPB Memangkas 1,5 Juta Ton Produksi Padi

Sebagai Guru Besar dan Kepala Pusat Bioteknologi IPB serta Associate Researcher CORE, Dwi Andreas Santosa telah mengeluarkan prediksi mengenai dampak fenomena kemarau berkepanjangan atau el nino terhadap produksi padi dalam negeri.

Menurutnya, el nino tahun 2023 ini diperkirakan akan menyebabkan penurunan produksi padi sekitar 5 persen, setara dengan 1,5 juta ton. Hal ini diungkapkan Dwi dalam acara Mid Year CORE Indonesia 2023 yang berlangsung pada tanggal 27 Juli.

Baca Juga: Tiket Kereta Api Masih Tersedia!! Daop 7 Madiun Beri Diskon Klas Eksekutif Saat Arus Balik Lebaran H+5

El Nino sendiri adalah fenomena pemanasan muka air laut di Samudera Pasifik yang berdampak pada penurunan curah hujan secara global, termasuk di Indonesia. Fenomena alam ini diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan Agustus hingga September mendatang.

Dalam menghadapi potensi kekurangan beras, Dwi menyarankan agar Badan Urusan Logistik (Bulog) meningkatkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Data yang ia peroleh menunjukkan bahwa stok beras Bulog per 25 Juli berjumlah 802 ribu ton, dengan CBP mencapai 744 ribu ton. Dari jumlah tersebut, 222 ribu ton beras merupakan serapan dalam negeri, sementara sisanya sebanyak 522 ribu ton harus diimpor.

Strategi Bulog Tingkatkan Cadangan Beras Pemerintah untuk Menghadapi Krisis Pangan

Terkait hal ini, Dwi menyampaikan keprihatinannya karena stok beras Bulog masih jauh dari target. Bulog seharusnya menyerap 2,4 juta ton beras dalam negeri pada tahun ini, tetapi hingga bulan Juli baru berhasil menyerap sekitar 222 ribu ton. Kondisi ini membuat Bulog tergantung pada stok impor dari luar negeri.

Pihak Bulog, melalui Direktur Bisnisnya, Febby Novita, menyatakan bahwa mereka terus berupaya maksimal untuk menghadapi el nino dan memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pangan. Upaya tersebut melibatkan kelompok tani, penggilingan tradisional, serta para stakeholder lainnya. Bulog juga menjalin koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah untuk menjaga pemerataan ketersediaan stok.

Tidak hanya memastikan ketersediaan beras di seluruh gudang, Bulog juga menyediakan beras secara offline maupun online di tingkat lokal melalui outlet-outlet binaan Bulog seperti Rumah Pangan Kita (RPK) yang tersebar di seluruh Indonesia, serta jaringan retail modern.

Febby menambahkan bahwa upaya yang dilakukan oleh Bulog saat ini, selain bertujuan untuk memupuk stok cadangan beras pemerintah, juga memiliki potensi untuk mendorong roda perekonomian, terutama dalam menjaga stabilisasi dan inflasi beras yang mungkin terjadi.

Dampak El Nino terhadap Produksi Padi di Indonesia dan Upaya Antisipasi Bulog

Dalam upaya menghadapi tantangan ini, Bulog terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah, serta melibatkan kelompok tani, penggilingan tradisional, dan para pemangku kepentingan lainnya.

Bulog juga berperan aktif dalam memastikan ketersediaan beras di tingkat lokal dengan menyediakan beras baik secara offline maupun online melalui outlet-outlet binaan Bulog seperti Rumah Pangan Kita (RPK).

Langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga dan inflasi beras, sambil berkontribusi dalam memajukan roda perekonomian negara. Dengan begitu, kesinambungan ketersediaan pangan dapat terjaga dengan lebih baik di tengah tantangan fenomena alam seperti el nino.