Jakarta, Memo
Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 dan kandidat presiden Anies Baswedan memiliki pemikiran Islam moderat sebagaimana diwariskan tokoh intelektual muslim Indonesia Nurcholish Madjid. Tudingan bahwa Anies adalah Bapak Politik Identitas sama sekali tak mendasar.
“Ada fakta, selama lima tahun Anies memimpin Jakarta, tak ada satu pun kebijakannya yang menpgarusutamakan kepentingan kelompok tertentu. Semua diperlakukan setara. Tak ada kegaduhan sosial yang berlatar konflik SARA. Ini bukti, Anies seorang pemimpin yang bisa mengelola keanekaragaman dalam persatuan,” kata Moch. Eksan, politisi Partai Nasional Demokrat dan pendiri Eksan Institute, Rabu (12/10/2022).
Menurut Eksan, Anies mewarisi Islam Tarikat Nurkholishy dari Cak Nur, sapaan akrab Nurcholish Madjid, yang memadukan Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemodernan dalam satu tarikan nafas. “Suatu kedunguan, menanggap Anies ‘Bapak Politik Identitas’ yang mengembangkan pemikiran intoleran dan mengusung ide Khilafah,” katanya.
Baca Juga: Viral Pemudik Nyasar ke Sawah Sleman Akibat Navigasi Digital Jalur Alternatif Dihapus
“Saya belum menemukan cuplikan pernyataan Anies, baik berupa lisan maupun tulisan, yang berbicara soal Khilafah. Narasi besar yang dikembangkan perihal melunasi janji kemerdekaan, tenun kebangsaan, pendidikan sebagai eskalator ekonomi, Indonesia mangajar, Indonesia menyala, kelas inspirasi, kualitas manusia Indonesia, pemahaman akar rumput dan kompetisi global,” kata Eksan.
Dengan terang-terangan, Eksan menganggap Anies seperti Cak Nur dan Gus Dur, sosok intelektual muslim Indonesia yang mengubur cita-cita politik negara Islam. “Ia benar-benar menyadari sedari lahir membawa identitas agama dan negara sekaligus. Ia muslim sekaligus warga negara Indonesia. Dua identitas ini tak bisa dipisahkan satu sama lain,” kata Eksan.
Baca Juga: Dari Blitar Berprestasi, Kini Muklisin Buka Babak Baru Kolaborasi di Banyuwangi
Tudingan politik identitas terhadap Anies dianggap Eksan tak ubahnya fobia. “Anies-phobia. Istilah ini (politik identitas) digunakan oleh kelompok anti Anies untuk mengkonsolidasikan dendam kesumat atas rasa kecewa dan marah akibat kekalahannya pada Pilkada DKI Jakarta 2017,” kata Eksan.












