“Kami ingin menyelamati Bung Karno dengan cara-cara tradisional. Seperti pesan beliau: menjadi Hindu tak harus menjadi orang India, menjadi Islam tak harus menjadi Arab. Kita punya jati diri sebagai bangsa Indonesia, maka adat dan tradisi harus kita jaga,” tegas Mas Ibin penuh semangat.
Gala Senja Mustika Rasa juga menjadi momentum untuk mengenang kehidupan masa kecil Bung Karno di Blitar, tempat beliau tumbuh bersama keluarga. Istana Gebang, yang menjadi saksi bisu kehidupan beliau, menjadi titik sentral dalam perayaan ini.
Baca Juga: Soal Tiket Pantai Serang, Pemdes Tegaskan Ada Pajak dan Bagi Hasil
“Kami ingin menggugah rasa dan ingatan kita kepada Bung Karno saat masih tinggal di sini. Ini adalah bentuk kebanggaan kami sebagai warga Blitar. Tanpa Bung Karno, mungkin Kota Blitar tidak akan dikenal seperti sekarang,” lanjutnya.
Acara ini tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga refleksi dan penguatan identitas lokal yang membumi. Melalui budaya, sejarah, dan rasa cinta, masyarakat Blitar terus menjaga warisan Bung Karno sebagai bagian dari jati diri bangsa Indonesia.
Gala Senja Mustika Rasa bukan sekadar agenda budaya, tetapi bentuk penghormatan tulus dan wujud syukur masyarakat Blitar atas warisan besar yang ditinggalkan oleh Putra Sang Fajar. **












