NGANJUK, MEMO – Dalam hasanah budaya jawa tidak hanya kaya filosofi saja, tapi lebih mendalam lagi kental dengan ajaran budi pekerti luhur sebagai bekal hidup bermasyarakat. Artinya dasar pemahamannya tidak lepas dengan asas lima dalam Pancasila. Tujuannya agar bisa menjadi manusia seutuhnya.
Sebab itu, dalam norma adat Jawa mengedepankan sikap berpikir yang berbudaya Adi luhung untuk menuju keseimbangan hidup. Dalam konsep agama juga diajarkan ” Hablum minallah wa Hablum minannas. Atau pentingnya menjaga hubungan dengan sang pencipta ( Allah) dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.
Baca Juga: Safari Kemanusiaan AWN Belum Berakhir, Hari Ini Bagikan Santunan Untuk 20 Yatim Piatu Di Brebek

Tujuannya untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang harmonis,selaras dan seimbang. Harapanya tidak lain adalah agar hidup bisa selalu damai dan tentram jauh dari gesekan sosial.
Baca Juga: Team Baksos AWN Jadi Burbershop Dadakan, Tiga ODGJ Jalanan Dicukur Rapi
Berangkat dari konsep itu, tampaknya dijadikan pedoman hidup oleh keluarga besar Mbah Carik Supriyadi bagaimana hidup bisa bermanfaat untuk orang lain.

Baca Juga: Kesandung Perkara Korupsi APBDES, Kades Dadapan Dituntut 1 Tahun 10 Bulan Penjara
Hal itu sepertinya diimplementasikan secara real oleh Mbah Carik Supriyadi dalam hidup bermasyarakat. Yaitu mengedepankan misi kemanusiaan.
Misi itu dijalankan oleh Mbah Carik Supriyadi khususnya di lingkungan masyarakat Desa Betet Kecamatan Ngronggot sudah berjalan bertahun tahun . Artinya tidak hanya dalam moment tertentu saja. Seperti rutin mengadakan acara bakti sosial setiap tahunnya yaitu menyantuni anak yatim piatu dan lansia serta kaum dhuafa.

Tidak hanya itu saja, sejak dua tahun silam Mbah Carik Supriyadi juga telah mewakafkan sebidang tanah untuk tempat ibadah kepada lingkungan di Dusun Barik Desa Betet Kecamatan Ngronggot berupa mushola yang diberi nama mushola Al Ikhlas.
Yang bikin surprise lagi, tepatnya pada malam hari ini ( Sabtu,2/08/2025) bersamaan dengan acara pagelaran wayang kulit semalam suntuk menghadirkan dalang kondang asal Jawa Tengah ,Ki Anom Dwijo Kangko dengan mengambil lakon ” Tumurune Wahyu Ketentreman “.

Secara simbolis Mbah Carik Supriyadi menyerahkan satu unit mobil gres warna putih untuk kepentingan masyarakat Desa Betet tanpa terkecuali.
Penyerahan satu unit mobil tersebut disaksikan oleh ribuan masyarakat yang hadir di lokasi pertunjukkan wayang kulit serta seluruh tokoh agama dan pemuda yang ikut nyengkuying jalannya acara hiburan rakyat tersebut.

” Atas nama keluarga ini pyur untuk misi kemanusiaan dalam rangka untuk mengurangi beban masyarakat. Sesuai dengan harapan bersama menuju Betet Sejahtera,” tutur Mbah Carik Supriyadi disela acara berlangsung.
Sementara itu saat wartawan menanyakan kepada dalang Ki Anom Dwijo Kangko apa makna dibalik lakon wayang ” Tumurune Wahyu Ketentreman ” ?.

Secara gamblang dikatakan Dwijo Kangko itu menggambarkan peran dan tanggungjawab seorang pemimpin harus mampu dan memiliki jiwa besar memberikan rasa aman dan ketentraman kepada masyarakat secara utuh. Tatkala situasi pemerintahanya terjadi goncangan baik secara ekonomi,sosial dan politik.

Untuk diketahui , sederetan rangkaian acara bakti sosial dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang digelar malam ini ( Sabtu,03/08/2035) di kediaman Mbah Carik Supriyadi berkaitan dengan acara tasyakuran 2 tahun berdirinya Mushola Al Ikhlas dan puji syukur dua buah hatinya Mbah Carik masuk IPDN dengan memperoleh bea siswa dari pemerintah.
Untuk santunan anak yatim piatu yang dilaksanakan pada hari Jumat malam ( 1/08/2025) di mushola Al Ikhlas berjumlah 36 anak. Dan untuk pembagian paket sembako yang diserahkan kepada 150 lansia diserahkan bersamaan dengan pagelaran wayang kulit malam ini ( Sabtu,02/08/2035). ( Adi )












