Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
inspirasiPeristiwa

Tradisi Bakar Batu di Lembah Baliem: Perayaan Iduladha di Jayawijaya, Papua Pegunungan

Avatar
×

Tradisi Bakar Batu di Lembah Baliem: Perayaan Iduladha di Jayawijaya, Papua Pegunungan

Sebarkan artikel ini
Tradisi Bakar Batu di Lembah Baliem Perayaan Iduladha di Jayawijaya, Papua Pegunungan

MEMO, Wamena: Perayaan Iduladha di Distrik Walesi, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, menjadi saksi dari tradisi yang kaya akan budaya dan toleransi.

Dalam tradisi Bakar Batu yang digelar di Lembah Baliem, masyarakat menjalankan upacara penyembelihan kurban dengan penuh semangat.

Baca Juga: Arus Balik Libur Nataru 2025/2026, Berikut Beberapa Stasiun KA Yang Jadi Favorit Penumpang

Dukungan dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan pengurus Hari-hari Besar Islam (PHBI) memastikan bahwa pembagian kurban merata di masjid-masjid di Jayawijaya.

Tradisi ini menggambarkan betapa pentingnya penghormatan terhadap budaya dan keyakinan agama dalam menciptakan kedamaian.

Baca Juga: Rangkaian Musda VII LDII Kota Kediri tahun 2025, Upayakan Peningkatan Kapasitas Pemuda

Perayaan Kurban Tradisional di Jayawijaya: Bakar Batu dalam Event Iduladha

Di suatu pagi yang cerah di Distrik Walesi, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, terdengar suara takbir yang lembut di antara padang ilalang.

Asap muncul dari batu-batu yang baru saja dibakar, yang diletakkan dalam lubang yang ditutupi dengan rerumputan.

Baca Juga: Musda VII LDII Kota Kediri Tahun 2025 Resmi Dibuka Wali Kota Vinanda , Lahirkan ECO Pesantren Dan SDM Profesional Religius

Hari ini, pada hari Iduladha tahun 2023, Lembah Baliem menjadi saksi toleransi. Tradisi Bakar Batu dilaksanakan dengan menyajikan daging kurban yang telah disembelih.

Meskipun udara sangat dingin, tradisi nenek moyang ini memberikan kehangatan. Orang-orang bergotong-royong bersama dengan semangat yang tinggi.

Kegiatan ini berpusat di Masjid Darul Mukhlasin di kampung Tulima, dengan dukungan dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Jayawijaya.

Menu utama yang disajikan adalah daging sapi dan kambing.

Tujuan dari kerja sama antara DMI dan pengurus Hari-hari Besar Islam (PHBI) adalah untuk membagi kurban secara merata ke sejumlah masjid di Jayawijaya, terutama yang terletak di perkampungan.

“Kami tetap menghormati adat, DMI sangat menghargai budaya. Hanya menu yang kami ubah,” kata Ketua DMI Jayawijaya, Yoyok Iwik Sriyoto.

Toleransi Agama dalam Bakar Batu Iduladha: Kajian Kasus di Kabupaten Jayawijaya

“Orang non-Muslim sudah tahu bahwa umat Islam tidak memakan babi. Jika mereka memiliki acara, mereka menyediakan ayam. Kami mengucapkan terima kasih atas bentuk toleransi yang luar biasa ini,” tambah Yoyok.

Yoyok menjelaskan bahwa upacara Bakar Batu dilakukan sebagai penghormatan terhadap tradisi masyarakat di Jayawijaya dalam peristiwa-peristiwa besar.

Salah satunya adalah Iduladha yang juga layak dirayakan dengan Bakar Batu.

“Adatnya tetap sama, menggunakan daging sapi dan kambing, sayurannya sama, bumbunya sama, tidak ada yang berubah. Hanya babi yang diganti dengan sapi dan kambing,” kata Yoyok, yang juga merupakan tokoh masyarakat Muslim asli Jayawijaya.

Sebagai bentuk toleransi, Yoyok juga mengundang umat non-Muslim yang tinggal di kampung Tulima untuk ikut merayakan kurban bersama.

“Selama ini, kurban cenderung terpusat di wilayah kota. DMI ingin fokus juga pada saudara-saudara Muslim kita di perkampungan, termasuk hari ini di kampung Tulima,” ujar Yoyok, sembari menyebutkan bahwa hewan kurban yang dibakar batu di Tulima kali ini adalah satu ekor sapi dan satu ekor kambing.

Sharif Yelipele, pengurus Masjid Darul Mukhlasin Kampung Tulima, menjelaskan bahwa masjid tersebut menerima tiga ekor sapi dan satu ekor kambing sebagai kurban.

“Kami menyembelih dua ekor sapi dan membagi-baginya. Satu ekor sapi dan kambing disajikan dalam acara Bakar Batu,” kata Yelipele.

Mewakili jemaah di Masjid Darul Mukhlasin kampung Tulima, Sharif Yelipele menyampaikan rasa terima kasihnya atas dukungan dalam perayaan Iduladha dan sumbangan hewan kurban.

“Semoga Allah membalas kebaikan para donatur. Terima kasih atas pelaksanaan acara Bakar Batu ini,” ucap Yelipele.

Di antara barisan pegunungan yang indah, dengan hutan pinus, ladang-ladang, dan padang ilalang yang luas, semuanya terasa harmonis. Bakar Batu di Lembah Baliem, pada Hari Raya Kurban.

Tradisi Bakar Batu di Lembah Baliem pada perayaan Iduladha tidak hanya menjadi ajang penghormatan terhadap tradisi leluhur, tetapi juga menjadi simbol toleransi antaragama.

Dengan mengganti menu daging babi dengan daging sapi dan kambing, tradisi ini mampu melibatkan seluruh masyarakat, termasuk yang non-Muslim, dalam perayaan kurban.

Dukungan dari berbagai pihak, termasuk DMI dan PHBI, membantu dalam pemerataan pembagian kurban di masjid-masjid di Jayawijaya.

Bakar Batu di Lembah Baliem merupakan perwujudan dari semangat gotong-royong dan persatuan di tengah keberagaman, serta menjadi contoh bagi masyarakat lain dalam membangun toleransi dan keharmonisan.