Example floating
Example floating
Daerah

TNKB Truk Angkutan Tebu Yang Mati, LPK Datangi PG Asembagus

A. Daroini
×

TNKB Truk Angkutan Tebu Yang Mati, LPK Datangi PG Asembagus

Sebarkan artikel ini

[ad_1]

Situbondo, Memo
Truk bermuatan tebu yang melintas di Jalan raya Bondowoso-Situbondo, banyak yang diduga melakukan pelanggaran dan terkesan dimata masyarakat dibiarkan melintas oleh aparat terkait.

Baca Juga: Sinergi LDII dan Ponpes Wali Barokah Kediri Wujudkan Kesalehan Sosial Melalui Santunan Anak Yatim dan Dhuafa

Ketua Lembaga Pemberantas Korupsi (LPK) Tapal kuda Saat mendatangi pabrik Gula Asembagus Kabupaten Situbondo guna melakukan kordinasi, Senin ( 10/8) kemarin.

Pertemuan kordinasi Tim LPK dengan Jajaran para petinggi PG Asembagus di ruang lantai dua PG . membahas adanya pelanggaran truk yang bermuatan lebih dan juga mengenai TNKB truk angkutan tebu yang sudah masa berlakunya habis.

Baca Juga: Tiket Kereta Api Masih Tersedia!! Daop 7 Madiun Beri Diskon Klas Eksekutif Saat Arus Balik Lebaran H+5

Dalam pertemuan kordinasi itu Deni selaku Ketua LSM LPK menanyakan nomor truk tebu melintas keluar masuk di setiap pabrik Gula ( PG) banyak yang sudah mati, bahkan kerapnya truk angkutan tebu melebihi tonase. Selain itu Deni juga mempertanyakan mekanisme bentuk kerjasama antara pihak kontraktor angkutan dengan pihak PG sebab selama ini pelanggaran truk angkutan tebu bebas beroprasi keluar masuk Pabrik.

Dalam hal ini Deni menngungkapkan banyaknya TNKB ataupun pajak truk angkutan tebu masih bebas beroprasi ini dinilai merupakan korupsi secara masiv. sementara sejauh ini belum ada tindakan tegas dari aparat penegak hukum dalam hal ini Sat lantas Polres Situbondo bersama pihak PG masih terkesan setengah hati melakukan penertiban. Selanjutnya juga menanyakan sejauh apa bentuk kerjasamanya antara pihak PG dengan kontraktor angkutan. .

Baca Juga: KAI Daop 7 Madiun Berikan Program “Silaturahmi” Diskon Hingga 20 Persen untuk Kelas Eksekutif

The post TNKB Truk Angkutan Tebu Yang Mati, LPK Datangi PG Asembagus appeared first on Memo Surabaya.

[ad_2]

Source link