Powell juga menyampaikan, di sisi lain ekonomi yang juga mengalami perlambatan saat ini sedang berlangsung. Pembuat kebijakan Fed pun menurunkan perkiraan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) untuk tahun 2022 menjadi 2,8 persen, dari 4 persen yang diproyeksikan pada bulan Desember 2022.
“Anda melihat harga minyak yang lebih tinggi, harga komoditas yang lebih tinggi. Itu akan membebani PDB sampai batas tertentu,” jelasnya. Seiring waktu, kebijakan Fed sendiri akan mulai membatasi aktivitas ekonomi, kata Powell.
Baca Juga: Pemerintah Salurkan Enam Program Bansos Serentak Mulai April 2026
Kepala Strategi Principal Global Investors Seema Shah menuturkan, kenaikan ini adalah upaya The Fed untuk mengajar ketertinggalan dari adanya inflasi global. “The Fed sedang mengejar ketinggalan dan dengan jelas menyadari kebutuhan untuk kembali menghadapi situasi inflasi,” ucapnya.
“Itu tidak akan mudah – jarang Fed dengan aman mendaratkan ekonomi AS dari ketinggian inflasi seperti itu tanpa memicu kehancuran ekonomi. Lebih jauh lagi, konflik, berpotensi mengganggu jalur Fed. Tapi untuk saat ini, prioritas Fed harus stabilitas harga,” tandas dia.
Baca Juga: Strategi Efisiensi Energi Pemerintah Lewat Kebijakan WFH ASN Setiap Hari Jumat












