Blitar, memo.co.id
Sosok H. Rijanto, Bupati Blitar dua periode, kembali menunjukkan kepeduliannya yang tulus terhadap keluarga besar Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Blitar. Di usianya yang tidak lagi muda, semangat pengabdiannya kepada masyarakat dan pegawai pemerintahan seolah tak pernah padam siang dan malam tetap ia gunakan untuk melayani, menengok, dan menguatkan mereka yang tengah berduka.
Kamis (6/11/2025) sore, kabar duka datang dari Fitri Kiswanti, staf Bagian Umum Setda Kabupaten Blitar. Suaminya, Agung Pambudi, meninggal dunia di Pontianak saat menjalankan tugas lapangan. Tanpa menunda waktu, H. Rijanto bersama sang istri langsung mendatangi rumah duka di Jalan Mojopahit, Sananwetan, Kota Blitar, malam harinya.
Baca Juga: Budayawan Jatim Dorong Pemerintah Wajibkan Indonesia Raya 3 Stanza di Upacara dan Media
“Begitu saya menerima kabar pukul tiga sore, hati ini langsung tergerak. Almarhum meninggal dalam tugas, jadi sudah sepatutnya pemerintah hadir untuk memberikan penghormatan,” tutur Rijanto dengan nada haru.
Di depan rumah duka, tampak berjejer karangan bunga dari berbagai pihak, termasuk dari Wakil Bupati Blitar, Beky Herdiyansah, yang juga turut menunjukkan rasa duka. Pemandangan itu seolah menegaskan kekokekompakan antara pimpinan dan wakil pimpinan daerahg jarang dijumpai di banyak tempat.
Baca Juga: Program MBG Resmi Bergulir di Sananwetan, SPPG Sananwetan Gedog 3 Jangkau 13 Sekolah
Kehadiran Rijanto malam itu bukan hanya sekadar bentuk formalitas seorang pejabat. Ia menyapa satu per satu pelayat, berbincang dengan keluarga almarhum, dan menenangkan hati Fitri yang tampak terpukul. Esok harinya, Jumat (7/11/2025), Rijanto kembali datang bersama istrinya untuk turut dalam pemberangkatan jenazah.
“Almarhum orang baik, berdedikasi, dan bertanggung jawab atas pekerjaannya. Meski sempat merasa masuk angin, ia tetap berangkat mengontrol proyek, nyetir sendirian, hingga akhirnya Tuhan memanggilnya dalam perjalanan. Semoga amal baiknya diterima dan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya,” ucap Rijanto saat melepas jenazah.
Dari pantauan memo.co.id, sejumlah staf Setda, petugas keamanan kantor kabupaten, hingga para rekan kerja Fitri tampak hadir di rumah duka sejak Kamis malam hingga Jumat siang. Mereka semua mengaku tersentuh oleh perhatian langsung dari sang mantan bupati yang tak segan turun tangan menunjukkan empatinya.
Bagi masyarakat Blitar, ketulusan Rijanto bukan hal baru. Pria bersahaja yang memulai kariernya sebagai staf hingga pernah menjabat Camat itu dikenal memahami betul suka-duka para pegawai di bawahnya. Ia tak hanya memimpin dari balik meja, tetapi juga meneladani semangat ngemong membimbing, merangkul, dan ikut merasakan beban anak buahnya.
“Saya pernah ada di posisi mereka. Jadi ketika ada staf yang berduka, saya ikut merasakan. Pemerintah bukan hanya soal program dan proyek, tapi juga tentang rasa kemanusiaan,” ujarnya pelan.
Ketika banyak kepala daerah justru terlihat renggang dengan wakilnya, H. Rijanto dan Beky Herdihansah justru menampilkan kekompakan yang menyejukkan. Karangan bunga dari keduanya di depan rumah duka menjadi simbol bahwa kepedulian bukan hanya milik pribadi, tetapi juga bagian dari budaya pemerintahan yang solid.
Sore itu, suasana rumah duka menjadi saksi bahwa pengabdian tak selalu berbentuk kebijakan besar atau proyek megah. Kadang, wujud nyata pengabdian hadir dalam langkah sederhana: duduk di antara keluarga yang berduka, menggenggam tangan mereka, dan mengatakan dengan tulus, “Pemerintah hadir untukmu.”**












