endanaan terbaru ini dipimpin oleh investor kawakan FT Partners, dengan partisipasi dari Y Combinator Inc., QED Investors, 13Books Capital, dan LocalGlobe. Sebelumnya, perusahaan juga telah mengumpulkan US$12 juta di awal tahun ini.
Dari Fat Llama ke Penggusur Bankir
Chaz Englander, yang baru berusia 33 tahun, mendirikan Model ML bersama adiknya, Arnie Englander (28). Inggris, bukan nama baru di dunia startup; ia sebelumnya sukses mendirikan dan menjual serangkaian startup, termasuk Fat Llama—sebuah perusahaan yang didukung oleh Y Combinator saat Sam Altman menjabat sebagai presidennya. Rekam jejak inilah yang memberikan kredibilitas kuat di mata ininvestor
Baca Juga: Konsisten Dukung TNI/ Polri KAI Daop 7 Madiun Berikan Diskon Tarif Mudik
Keseriusan Model ML juga terlihat dari jajaran dewan penasihat mereka yang diisi veteran perbankan kelas dunia, termasuk mantan CEO HSBC Holdings Plc, Noel Quinn, dan mantan Ketua Dewan Direksi UBS Group AG, Axel Weber.
Dengan dukungan dan koneksi ini, Model ML telah berhasil menggaet beberapa klien elit di Wall Street dan firma konsultan ternama.
Baca Juga: H+2 Lebaran 1447H/ 2026 M, Volume Penumpang di Wilayah Daop 7 Madiun Pecah Rekor Capai Puluhan Ribu
Saat ini, Model ML memiliki tim beranggotakan 45 orang. Dana yang baru dikumpulkan akan dimanfaatkan untuk memperkuat tim onboarding di pusat-pusat keuangan global, yakni San Francisco, New York, London, dan Hong Kong.
Prioritas utama lainnya adalah merekrut lebih banyak insinyur AI untuk mendorong batas kemampuan teknologi mereka.
Baca Juga: TMMD ke-127 Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Pemkab Kediri Juga Bekali Warga Olahan Ikan Lele
Menariknya, meskipun Model ML didirikan di Amerika Serikat, timnya sebagian besar dipindahkan ke kawasan King’s Cross di London.
Keputusan strategis ini diambil demi efisiensi biaya, di mana lokasi tersebut juga menjadi rumah bagi raksasa teknologi lain seperti Google, DeepMind Technologies Ltd., dan Meta Platforms Inc.
Di tengah hiruk pikuk dan janji manis ratusan startup yang lahir dari kemajuan AI, pasar memang mulai terbelah. Investor mulai bertanya-tanya, apakah teknologi ini benar-benar mampu menghasilkan keuntungan besar dalam jangka pendek.
Meski jaminan dari CEO Nvidia Corp., Jensen Huang, pekan lalu sempat menenangkan pasar, kekhawatiran bubble AI masih membayangi. Namun, keraguan tersebut jelas tidak menghentikan Model ML dan para investor venture capital untuk terus mengucurkan dana, menandakan perburuan pemenang besar di era AI masih terus berlanjut.












