Example floating
Example floating
Tekno Digi

Startup AI Model ML Disuntik Rp1,2 Triliun, Robot Inilah yang Siap Gusur Pekerjaan Bankir Wall Street

A. Daroini
×

Startup AI Model ML Disuntik Rp1,2 Triliun, Robot Inilah yang Siap Gusur Pekerjaan Bankir Wall Street

Sebarkan artikel ini
Startup AI Model ML Disuntik Rp1,2 Triliun, Robot Inilah yang Siap Gusur Pekerjaan Bankir Wall Street
  • Model ML, startup kecerdasan buatan, baru saja mengantongi dana fantastis US$75 juta (sekitar Rp1,2 triliun) dari putaran pendanaan tahap awal yang dipimpin FT Partners.
  • Fokus mereka jelas, mengembangkan teknologi yang dapat mengotomatisasi sebagian besar pekerjaan rutin dan membosankan di dunia investment banking.
  • Pendanaan besar ini sekaligus membuktikan, keraguan pasar tentang bubble AI tak mampu menghentikan kucuran modal ventura untuk mencari pemenang besar berikutnya.

Robot AI Mengancam, Analis Wall Street Di Ujung Tanduk

Gebrakan besar kembali datang dari ranah kecerdasan buatan. Model ML, sebuah startup AI yang baru berumur sekitar setahun, sukses menggalang dana sebesar US$75 juta atau setara Rp1,2 triliun (kurs saat ini) dalam putaran pendanaan tahap awal.

Bukan sekadar mengejar valuasi, misi utama dana jumbo ini adalah untuk menyempurnakan sebuah “robot” teknologi yang dirancang untuk menggantikan sebagian besar pekerjaan rutin dan repetitif di bidang investment banking.

Baca Juga: TMMD ke-127 Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Pemkab Kediri Juga Bekali Warga Olahan Ikan Lele

Targetnya sangat spesifik: membereskan tugas-tugas memakan waktu yang selama ini menjadi beban para analis dan bankir junior di Wall Street, mulai dari menyusun presentasi PowerPoint yang melelahkan hingga merangkai laporan due diligence yang detail.

Chief Executive Officer (CEO) Model ML, Chaz Englander, secara tegas mengatakan bahwa teknologi mereka diciptakan untuk mempercepat banyak tugas yang membosankan yang menyita waktu berjam-jam bagi pekerja kerah putih tersebut.

Baca Juga: Pastikan Kesiapan Angkutan Lebaran 2026, Direktur Operasi KAI Lakukan Inspeksi Lintas di Wilayah Daop 7 Madiun

Bayangkan saja, teknologi agen AI mereka kini mampu membantu mitra ekuitas swasta untuk menyusun draf pertama memo komite investasi hanya dari email yang masuk.

Tugas yang biasanya membutuhkan waktu seharian penuh—sebab harus mengolah data pemasaran dari presentasi dan basis data perusahaan swasta—kini dapat diselesaikan dalam sekejap mata oleh sistem Model ML.

Baca Juga: Pastikan Kesiapan Angkutan Lebaran 2026, Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Inspeksi Keselamatan dan Pelayanan di Wilayah Daop 7 Madiun

Jelas, ini adalah ancaman serius bagi efisiensi, dan tentunya, struktur pekerjaan tradisional di bank-bank investasi raksasa.

Didirikan di London dan New York, Model ML telah menarik perhatian dari nama-nama besar di industri keuangan dan teknologi.

endanaan terbaru ini dipimpin oleh investor kawakan FT Partners, dengan partisipasi dari Y Combinator Inc., QED Investors, 13Books Capital, dan LocalGlobe. Sebelumnya, perusahaan juga telah mengumpulkan US$12 juta di awal tahun ini.

Dari Fat Llama ke Penggusur Bankir

Chaz Englander, yang baru berusia 33 tahun, mendirikan Model ML bersama adiknya, Arnie Englander (28). Inggris, bukan nama baru di dunia startup; ia sebelumnya sukses mendirikan dan menjual serangkaian startup, termasuk Fat Llama—sebuah perusahaan yang didukung oleh Y Combinator saat Sam Altman menjabat sebagai presidennya. Rekam jejak inilah yang memberikan kredibilitas kuat di mata ininvestor

Keseriusan Model ML juga terlihat dari jajaran dewan penasihat mereka yang diisi veteran perbankan kelas dunia, termasuk mantan CEO HSBC Holdings Plc, Noel Quinn, dan mantan Ketua Dewan Direksi UBS Group AG, Axel Weber.

Dengan dukungan dan koneksi ini, Model ML telah berhasil menggaet beberapa klien elit di Wall Street dan firma konsultan ternama.

Saat ini, Model ML memiliki tim beranggotakan 45 orang. Dana yang baru dikumpulkan akan dimanfaatkan untuk memperkuat tim onboarding di pusat-pusat keuangan global, yakni San Francisco, New York, London, dan Hong Kong.

Prioritas utama lainnya adalah merekrut lebih banyak insinyur AI untuk mendorong batas kemampuan teknologi mereka.

Menariknya, meskipun Model ML didirikan di Amerika Serikat, timnya sebagian besar dipindahkan ke kawasan King’s Cross di London.

Keputusan strategis ini diambil demi efisiensi biaya, di mana lokasi tersebut juga menjadi rumah bagi raksasa teknologi lain seperti Google, DeepMind Technologies Ltd., dan Meta Platforms Inc.

Di tengah hiruk pikuk dan janji manis ratusan startup yang lahir dari kemajuan AI, pasar memang mulai terbelah. Investor mulai bertanya-tanya, apakah teknologi ini benar-benar mampu menghasilkan keuntungan besar dalam jangka pendek.

Meski jaminan dari CEO Nvidia Corp., Jensen Huang, pekan lalu sempat menenangkan pasar, kekhawatiran bubble AI masih membayangi. Namun, keraguan tersebut jelas tidak menghentikan Model ML dan para investor venture capital untuk terus mengucurkan dana, menandakan perburuan pemenang besar di era AI masih terus berlanjut.