Example floating
Example floating
Bisnis

Rupiah Diramal Sentuh Rp17.000 per Dolar AS di 2026, Indonesia Dalam bahaya

A. Daroini
×

Rupiah Diramal Sentuh Rp17.000 per Dolar AS di 2026, Indonesia Dalam bahaya

Sebarkan artikel ini

Sebaliknya, dampak negatif dari Rupiah yang menyentuh Rp17.000 akan dirasakan lebih luas, menargetkan masyarakat, industri, dan pemerintah:

Kenaikan Inflasi Impor (Imported Inflation): Biaya impor bahan baku dan barang modal akan meningkat drastis. Kenaikan ini akan mendorong lonjakan harga barang konsumsi di pasar domestik.

Baca Juga: Pastikan Kesiapan Angkutan Lebaran 2026, Direktur Operasi KAI Lakukan Inspeksi Lintas di Wilayah Daop 7 Madiun

Tekanan Industri Manufaktur: Industri yang sangat bergantung pada impor bahan baku akan menghadapi kenaikan biaya produksi, yang pada akhirnya menekan margin keuntungan dan berpotensi memperlambat proses industrialisasi nasional.

Beban Utang Meningkat: Melemahnya Rupiah secara otomatis memperbesar beban pembayaran utang pemerintah dan korporasi yang menggunakan denominasi Dolar. Hal ini akan mempersempit ruang fiskal pemerintah dan meningkatkan risiko kredit.

Baca Juga: Pastikan Kesiapan Angkutan Lebaran 2026, Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Inspeksi Keselamatan dan Pelayanan di Wilayah Daop 7 Madiun

Lebih lanjut, Indef memperingatkan bahwa jika Pemerintah dan Bank Sentral gagal menjaga stabilitas nilai tukar, risiko jangka panjangnya adalah pemicu pengetatan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate). Kebijakan ini, meski bertujuan menstabilkan Rupiah, pada gilirannya akan menekan investasi dan menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Q: Rp17.000 itu artinya apa sih buat dompet kita?

Baca Juga: Umi Sjarifah, Pemred Media Sudut Pandang Raih Anugerah INDOPOSCO atas Dedikasi Jurnalistik

A: Artinya, Dolar AS jadi makin perkasa. Kalau kamu mau beli barang impor (sepatu, gadget, spare part motor), harganya bakal ikutan mahal. Barang yang bahan bakunya impor (misal: mie instan atau produk kecantikan) juga bisa naik harganya! Ini yang disebut inflasi impor.

Q: Kenapa kita enggak bisa nahan Rupiah biar enggak melemah?
A: Karena kita punya masalah struktural tadi. Kita terlalu banyak jajan (impor bahan baku/energi) pakai Dolar, tapi income Dolar dari ekspor kita enggak sekuat itu. Ibaratnya, pengeluaran Dolar kita lebih gede dari pemasukan Dolar kita.

Q: Katanya ada untungnya kalau Rupiah melemah, benar enggak?
A: Benar, tapi tipis! Kalau Rupiah lemah, produk ekspor kita jadi lebih murah di pasar global. Contoh: kerajinan UMKM kita. Tapi karena mayoritas ekspor kita komoditas (yang harganya dipatok global), jadi untungnya enggak signifikan.

Q: Apa yang bisa dilakukan Pemerintah/Bank Sentral?
A: Mereka harus kompak (koordinasi kebijakan)! Bank Sentral bisa naikin suku bunga (meski risikonya investasi turun) atau intervensi pasar. Pemerintah harus kerja keras mengurangi impor (misal: efisiensi subsidi energi) dan menggenjot ekspor di sektor yang bukan komoditas.

Q: Terus, sebagai anak muda, kita harus gimana?
A: Paling minimal, waspada terhadap kenaikan harga dan inflasi. Kalau kamu punya bisnis, coba cari supplier lokal yang bahan bakunya enggak impor. Dan yang paling penting: Pilih produk lokal! Kurangi ketergantungan pada barang impor.