Blitar, Memo.co.id
Kondisi RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar pasca pemangkasan massal tenaga kebersihan menuai kecaman luas dari keluarga pasien. Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat pemulihan justru menimbulkan rasa tidak nyaman akibat kebersihan yang tak terawat. Sampah menumpuk di sejumlah titik, dan lingkungan pelayanan tampak jauh dari standar fasilitas kesehatan.
Baca Juga: Safari Ramadan NasDem di Blitar, Saan Mustopa Serukan Persatuan di Pusara Bung Karno
Pantauan di lapangan banyaknya tumpukan sampah di berbagai sudut rumah sakit. Sebagai contoh banyaknya sampah daun kering di area parkir. Situasi ini menimbulkan keresahan di kalangan pasien dan keluarga yang setiap hari harus beraktivitas di lingkungan tersebut.
“Saya kaget, ini rumah sakit tapi sampahnya dibiarkan menumpuk,” keluh Siti (45), salah satu keluarga pasien asal Kecamatan Sananwetan.
Baca Juga: Ngopi Ramadan Jadi Panggung Evaluasi Kritis, Reformasi Struktural Jadi Tuntutan Kota Blitar
Kondisi tersebut diduga kuat sebagai dampak langsung dari kebijakan pemangkasan massal tenaga kebersihan yang dilakukan manajemen rumah sakit. Jumlah petugas yang tersisa dinilai tidak sebanding dengan luas area RSUD Mardi Waluyo, sehingga kebersihan tak lagi tertangani secara optimal.
“Kami ini membawa orang sakit, bukan orang sehat. Kalau lingkungannya kotor begini, malah takut nambah penyakit,” tambah Siti.
Baca Juga: Solid dan Humanis, PSHT Letting 2025 Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Aksi Ramadan
Ironisnya, kebijakan efisiensi yang digembar-gemborkan justru mengorbankan aspek paling mendasar dalam layanan kesehatan. Kebersihan bukan sekadar estetika, melainkan syarat mutlak keselamatan pasien. Lingkungan rumah sakit yang kotor berpotensi meningkatkan risiko infeksi dan memperburuk kondisi pasien.












