Menurutnya, ketupat bukan sekadar makanan khas Lebaran. Di balik anyaman janur yang sederhana, tersimpan filosofi tentang pengakuan kesalahan, keikhlasan untuk saling memaafkan, hingga harapan akan hubungan yang kembali bersih dan erat.
Tak hanya menguatkan nilai budaya, kegiatan ini juga memberi dampak pada sektor pariwisata lokal. Kampung Coklat kembali menunjukkan eksistensinya sebagai destinasi yang mampu menggabungkan edukasi, tradisi, dan hiburan dalam satu momentum.
Baca Juga: PKK Rejotangan Dorong Ketahanan Keluarga, Soroti Lonjakan Perceraian di Tulungagung
Bupati Blitar, Rijanto, yang hadir langsung dalam acara tersebut, menyampaikan apresiasi atas konsistensi penyelenggaraan kirab. Ia menilai kegiatan ini memiliki nilai strategis, baik dari sisi budaya maupun promosi daerah.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Blitar, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Semoga momentum ini semakin mempererat persaudaraan kita semua,” ucapnya.
Baca Juga: Mantan Wabup Blitar Jadi Korban Penipuan, Terpidana Mulia Wiryanto jadi Buron
Ia juga berharap tradisi seperti Kirab Ketupat terus dijaga dan dikembangkan sebagai identitas khas daerah yang mampu menarik perhatian lebih luas.
Di tengah gegap gempita acara, satu hal terasa jelas—tradisi ini bukan hanya tentang keramaian, tetapi tentang merawat makna. Tentang bagaimana masyarakat Blitar menenun kembali hubungan, sehalus janur yang dibentuk menjadi ketupat, penuh kesabaran dan ketulusan.
Baca Juga: Tinggalkan Kendaraan Bermotor, PUPR Blitar Bangun Budaya Kerja Ramah Lingkungan












