MEMO – Platform inovatif di bidang pengelolaan sampah, Jagatera, tengah gencar mendorong implementasi konsep ekonomi sirkular melalui sinergi apik antara masyarakat dan para pengelola lingkungan. Denny M. Pondiu, sang pendiri Jagatera, meyakini bahwa pendekatan kolaboratif ini merupakan jawaban berkelanjutan untuk menekan volume limbah rumah tangga yang terus meningkat.
“Filosofi kami lebih dari sekadar menampung residu. Kami berambisi untuk mentransformasi limbah yang seringkali dianggap tak bernilai menjadi aset yang memiliki kegunaan baru,” papar Denny dalam sebuah wawancara inspiratif bersama Pro 3 RRI, Sabtu (12 April 2025).
Melalui platform digital yang user-friendly, masyarakat kini memiliki wadah untuk menyalurkan barang-barang bekas mereka yang masih memiliki potensi, seperti kasur, sofa, atau lemari. Barang-barang yang dinilai masih layak pakai akan melalui proses perbaikan dan kemudian didistribusikan kembali kepada pihak-pihak yang membutuhkan.
Lebih jauh lagi, Jagatera aktif melibatkan warga dalam proses pemilahan sampah berdasarkan jenis materialnya, mulai dari busa, kaca, kain, hingga logam. Kemitraan yang erat ini memperkuat ekosistem ekonomi sirkular secara keseluruhan, karena setiap elemen masyarakat terlibat secara langsung dalam mata rantai pengelolaan limbah yang bertanggung jawab.
“Sebagai contoh konkret, kami mengajak warga untuk menukarkan sampah yang telah mereka pilah dengan imbalan berupa kasur baru. Dengan cara ini, mereka tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga merasakan manfaat langsung dari upaya tersebut,” jelas Denny dengan antusias.
Denny Pondiu memiliki harapan besar agar model pengelolaan sampah yang diusung oleh Jagatera dapat direplikasi di berbagai kota lainnya. Langkah ini diyakininya sebagai fondasi penting dalam membangun budaya baru yang lebih bertanggung jawab dalam memperlakukan sampah sebagai sumber daya, bukan sekadar barang buangan.












