
” Mohon dijelaskan kenapa dan apa tujuan banyak beredarnya form ke petani. Apa memang prosedurnya seperti itu?,” tanya kades Batembat.
Baca Juga: Urat Nadi Kemanusiaan AWN Belum Putus, Hari Ini Kirim Kasur Busa Untuk Sahra
Lain halnya persoalan yang disampaikan Kepala Desa Kemaduh Kecamatan Baron, Hawyn Duta Satryawan. Dia memberikan saran dan masukan kepada Kabulog Imam Mahdi yaitu terkait sebelum gabah petani dikirim ke gudang, alangkah baiknya pihak BULOG melakukan pengecekan terlebih dahulu kondisi gabah petani. Itu untuk mengantisipasi ada penolakan dari Bulog karena mutu gabah tidak layak giling.
” Kalau gabah dikembalikan itu justru sangat merugikan petani. Alangkah baiknya Bulog jemput bola melakukan pengecekan gabah lebih awal. Tujuannya untuk mengetahui gabah yang layak kirim dan tidak. Biar petani tidak dua kali kerja dan menghabiskan biaya,* kata Hawyn Duta Satriyawan.
Baca Juga: Jelang Lebaran, 86 Lansia Miskin Di Kampungbaru Terima Bansos SARMUKO Dari TP - PKK Kabupaten
Menanggapi itu semua dikatakan Imam Mahdi ,Bulog siap berbenah.Termasuk untuk antisipasi terjadinya overload barang sementara alat pengeringnya masih terbatas diupayakan menambah alat pengering. Dan bekerjasama dengan BULOG luar daerah Nganjuk.

Baca Juga: Pengaburan Status Jalan Umum Di Desa Betet Akhirnya Terkuak, Begini Reaksi Warga......
Disinggung pula oleh Imam Mahdi soal keterbatasan anggaran pemerintah. Alokasi anggaran penyerapan gabah petani untuk wilayah Nganjuk dan Kediri sebesar Rp 121 M.

” Anggaran ini diserap sampai bulan April saja. Dari Bulog mengusulkan penambahan anggaran lagi,” jelas Imam Mahdi.
Sementara tanggapan dari anggota komisi garis besarnya memberi masukan agar membangun komunikasi dengan Satgas Pangan ( PPL dan Babinsa ). Agar semua persoalan yang ada di bawah bisa diketahui dan cepat diatasi.
Kalau memang tidak bisa membeli gabah dari petani karena anggaran terbatas alangkah baiknya angkat tangan saja jangan dipaksakan ,” ucap Nu Daenuri anggota komisi ( Adi )












