Example floating
Example floating
BLITAR

Pesta Mercon di Tengah Jalan Picu Keributan, Warga Tantang Polisi: “Buka Baju, Sekalian Kelahi!”

A. Daroini
×

Pesta Mercon di Tengah Jalan Picu Keributan, Warga Tantang Polisi: “Buka Baju, Sekalian Kelahi!”

Sebarkan artikel ini
Pesta Mercon di Tengah Jalan Picu Keributan, Warga Tantang Polisi

Blitar, memo.co.id
Tradisi tanpa pelajaran. Kalimat itu terasa pahit, tapi nyata. Di saat gema takbir masih menggantung di langit Idul Fitri, sebagian warga justru kembali mengulang cerita lama: pesta mercon yang berujung ricuh.

Peristiwa itu terjadi di Jalan Seruni, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar, Sabtu pagi. Bukannya merayakan hari kemenangan dengan khidmat, sekelompok warga justru menggelar pesta petasan di tengah jalan, menggunakan berbagai ukuran mercon yang membahayakan.

Baca Juga: Dari Meja Miras ke Bara Api: Kronologi Pembakaran Toko di Garum

Ironisnya, lokasi yang dipilih adalah fasilitas umum—akses jalan warga—yang seharusnya steril dari aktivitas berisiko tinggi.

Kondisi ini sontak memicu keresahan. Warga yang terganggu akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.

Baca Juga: PUPR Kabupaten Blitar Siapkan Jalan Aman untuk Pemudik, 14 Titik Kerusakan Jadi Prioritas

Tak berselang lama, anggota Polres Blitar datang ke lokasi dan berupaya mengamankan situasi. Sejumlah barang bukti berupa petasan dalam jumlah besar—bahkan disebut mencapai setengah karung—diamankan sebelum sempat disulut.

Namun, langkah aparat justru memantik perlawanan.

Baca Juga: Gerindra Blitar Rangkul Media di Ramadan, Perkuat Sinergi dan Komunikasi Publik

Alih-alih kooperatif, sebagian warga yang terlibat pesta mercon malah tersulut emosi. Adu mulut tak terhindarkan. Situasi memanas, hingga berujung dorongan fisik dan hujatan terhadap petugas.

Bahkan, seorang pria tak dikenal secara terang-terangan menantang aparat.

“Buka baju, kalau berani sekalian kelahi sekalian,” teriaknya, seperti terekam dalam video yang beredar.

Situasi yang semakin tak kondusif memaksa petugas mengambil langkah cepat. Sisa petasan yang berpotensi meledak akhirnya dibuang ke sungai terdekat untuk menghindari risiko ledakan.

Meski demikian, tindakan tersebut tetap diwarnai perlawanan dari sejumlah warga yang ngotot mempertahankan aktivitas berbahaya itu.

Dalam rekaman video yang beredar, terdengar penjelasan dari anggota kepolisian yang berusaha meredam situasi.

“Kami bertindak berdasarkan laporan warga. Karena hal ini mengganggu ketertiban masyarakat luas,” ujarnya.

Pada akhirnya, belasan warga yang sempat bersikeras memilih membubarkan diri. Namun, kejadian ini meninggalkan catatan serius: lemahnya kesadaran hukum dan keselamatan di tengah masyarakat.

Padahal, penggunaan petasan di tempat umum jelas melanggar aturan dan berpotensi menimbulkan korban jiwa. Fakta yang seharusnya sudah menjadi pelajaran, mengingat berbagai insiden ledakan mercon sebelumnya telah memakan korban, bahkan hingga membakar fasilitas ibadah.

Salah satu warga sekitar, Aritanto, menyayangkan adanya perlawanan terhadap aparat yang justru menjalankan tugas melindungi masyarakat.

“Mau dibawa ke mana hukum kita, kalau polisi memberikan perlindungan malah dilawan. Kasus ini harus diusut tuntas biar ada efek jera,” tegasnya.

Peristiwa ini menjadi ironi di hari kemenangan. Ketika seharusnya yang dikumandangkan adalah damai, justru yang muncul adalah dentuman mercon dan bara konflik.

Dan pertanyaannya masih sama, berulang tiap tahun: sampai kapan tradisi berbahaya ini terus dipelihara?