Pesan ICMI Untuk Umat Hadapi Tiga Perubahan Destruktif

Memo.co.id

 Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Prof Arif Satria, menyampaikan, ada tiga macam perubahan destruktif yang sedang mengubah tatanan dunia. Sehubungan dengan itu, ICMI menyampaikan pesan-pesan dan solusi kepada umat Islam serta bangsa Indonesia untuk menghadapi perubahan destruktif tersebut.

Bacaan Lainnya

ICMI menyampaikan pesan-pesan dan solusi kepada umat Islam.

Arif mengatakan, sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat untuk orang lain. ICMI mengajak seluruh umat Islam dan juga warga negara Indonesia untuk terus menebar manfaat. Manfaat yang bersifat institusional, manfaat yang memberikan multiplier effect yang luas, dan manfaat yang berkelanjutan.

“Oleh karena itu pada kesempatan ini saya juga ingin mengajak bahwa memberi manfaat dan menebar manfaat saatnya kita harus bersifat kontekstual dan relevan terhadap perkembangan zaman,” kata Arif saat memberikan tausiyah pada acara Dzikir Nasional 2021 bertema “Terus Membersamai Kebaikan” yang diselenggarakan Republika

ICMI menyampaikan pesan-pesan dan solusi kepada umat Islam.

Ia menerangkan, sekarang ada tiga perubahan destruktif menjadi ciri perubahan dan tengah mengubah tatanan dunia. Pertama, perubahan iklim. Sekarang dari tingkat akar rumput hingga kebijakan nasional dan global, semuanya berpikir tentang adaptasi dan mitigasi. Hal ini karena perubahan iklim tidak hanya berdampak secara ekologis, tetapi juga mengancam kehidupan sosial ekonomi dan kesehatan

Menurutnya, kesadaran manusia tentang dampak perubahan iklim tersebut melahirkan pola hidup yang ramah lingkungan, konsep ekonomi hijau, dan konsep ekonomi biru yang mendasarkan diri pada prinsip keberlanjutan.

Arif menjelaskan, destruktif yang kedua adalah revolusi industri 4.0 yang dipicu oleh berkembangnya teknologi internet, kecerdasan buatan, blockchain dan robotik. Perubahan teknologi secara eksponensial ini telah membuat dunia semakin terkoneksi dengan cepat dan presisi melalui digitalisasi. Sehingga kehidupan ini tengah berubah secara nyata.

“Munculnya ekonomi digital ternyata berdampak pada perubahan peta kompetisi, pola perilaku konsumen, kebutuhan keahlian, dan jenis pekerjaan baru,” ujarnya.

Arif mengatakan, revolusi industri 4.0 ini merupakan pemicu perubahan dengan kecepatan tinggi. Sehingga memerlukan kecepatan langkah, adaptasi, perubahan pola pikir, kolaborasi dan fleksibilitas.

Ia menerangkan, destruktif yang ketiga adalah pandemi Covid-19 yang membuat dunia berada dalam ketidakpastian. Karena itu sekarang orang mulai sadar pentingnya pola hidup sehat, pentingnya alam dan lingkungan yang segar, pentingnya kemandirian dan pangan, dan pentingnya gotong-royong.

“Menghadapi ketidakpastian, kita tidak bisa sendiri-sendiri. Melainkan butuh kolaborasi dan juga sikap kedermawanan. Faktor suksesnya Indonesia mengatasi pandemi Covid-19 salah satunya karena kekuatan modal sosial tersebut,” jelasnya.

Arif mengatakan, pada saat pandemi ini aspek spiritualitas menjadi faktor yang sangat penting karena orang semakin dekat dengan Tuhan. Umat Islam semakin dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Barangkali inilah cara Allah mengoreksi cara umat manusia menjalani kehidupan.

“Sehingga dengan tiga destruktif ini, kehidupan kita telah ditata ulang. Ketiga perubahan ini belum pernah terjadi sebelumnya sehingga belum ada bangsa manapun yang punya pengalaman dan resep untuk menghadapinya,” ujarnya.

Arif menegaskan, dalam dunia yang sedang ditata ulang ini, semua negara dalam posisi yang sama. Dalam posisi start yang sama ini maka kuncinya terletak pada siapa yang lebih cepat berlari. Kecepatan berlari sangat ditentukan oleh kecepatan belajar dan ditentukan oleh pola pikir baru, serta ditentukan oleh kekuatan masa depan future practice.

“Kita menghadapi hal yang sama sekali baru sehingga perlu cara pandang baru, cara kerja baru, dan cara belajar baru, serta punya kemampuan dan keberanian untuk memulai langkah baru dengan future practice bukan pada best practice mata,” jelasnya.

Menurutnya, dalam kompetisi era destruktif ini, sulit menemukan best practice karena semua orang dan semua negara sama-sama gamang. Sebagian negara-negara yang ada juga sedang belajar. Sehingga orientasi pada best practice mata membuat bangsa ini selalu menunggu langkah orang lain. Sehingga hanya akan menjadikan bangsa ini pengikut.

“Tapi dengan orientasi future practice kita akan memulai langkah sendiri lalu kita akan menjadi acuan dan sekarang pilihannya adalah apakah kita hanya ingin menjadi follower atau kita ini akan menjadi leader dalam destruktif serba cepat ini,” kata Arif.

Pos terkait