Menurutnya, hilangnya mata pelajaran yang secara spesifik mengajarkan nilai-nilai moral Pancasila telah menciptakan kekosongan spiritual dan degradasi etika di kalangan sebagian generasi muda. Arus informasi global yang deras dan tanpa filter membutuhkan fondasi karakter yang kuat agar pelajar tidak mudah terombang-ambing oleh paham-paham yang bertentangan dengan semangat gotong royong, toleransi, dan kebersamaan yang diwariskan oleh para pendiri bangsa.
Lebih lanjut, Guntur menyoroti keterkaitan erat antara Pancasila dan kebudayaan nasional. Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila sesungguhnya telah tertanam dalam tradisi, adat istiadat, dan budaya leluhur bangsa Indonesia. Pengembalian PMP, menurutnya, tidak hanya memperkuat pemahaman ideologi, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga dan kecintaan terhadap kebudayaan Indonesia.
Baca Juga: SPPG Tlumpu Disorot, Menu MBG di SMAN 1 Kota Blitar Dinilai Tak Layak, IPAL Bermasalah
“Pancasila mengajarkan kita untuk menghargai setiap perbedaan, berpegang teguh pada musyawarah mufakat, dan senantiasa berbuat adil sosial. Ini semua adalah cerminan dari budaya luhur kita,” tegasnya.
Ia berharap, dengan PMP yang terstruktur dan terintegrasi, tercipta generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bermoral tinggi, nasionalis, dan berpegang teguh pada Bhinneka Tunggal Ika. Penguatan ideologi ini, kata Guntur, adalah investasi jangka panjang untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Baca Juga: Era Digital dan Tantangan Akurasi, Jairi Irawan Gelar Diskusi Bersama Jurnalis Blitar
“Dengan PMP, anak-anak akan kembali diajak meneladani kearifan lokal, memahami nilai-nilai persatuan yang diwariskan leluhur, dan menjadi insan yang berkarakter kebangsaan sejati,” pungkasnya. **












