“Kondisi pasien bisa memburuk dengan sangat cepat dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu, penting sekali untuk segera membawa pasien ke faskes agar mendapatkan penanganan yang tepat secepat mungkin,” ujarnya.
Dalam tiga kasus yang terjadi di Tulungagung, para pasien awalnya sempat berobat ke puskesmas dan disarankan untuk menjalani pemeriksaan medis lanjutan dalam waktu dua hari. Namun, mereka baru kembali ke puskesmas pada hari keempat, ketika kondisi mereka sudah memburuk secara signifikan. Akibatnya, pasien langsung dirujuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dalam kondisi kritis, namun sayangnya nyawa mereka tidak dapat diselamatkan.
Baca Juga: Usai Lebaran, Berat Badan Melonjak? Masyarakat Diimbau Tingkatkan Kebugaran Demi Kesehatan Optimal
“Keterlambatan dalam penanganan medis menjadi faktor utama penyebab kematian pada kasus-kasus ini. Obat yang diberikan di puskesmas hanya berfungsi untuk memperlambat penyebaran infeksi, bukan untuk menyembuhkan penyakit secara total,” jelas Desi.
Hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan bahwa para korban berusia antara 50 hingga 60 tahun dan memiliki pekerjaan sebagai petani di ladang. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki risiko tinggi untuk terpapar bakteri leptospira yang berasal dari kencing tikus yang banyak ditemukan di area pertanian.
Baca Juga: Kualitas Makanan Gratis Dipantau Ketat! Lembaga Independen Turun Tangan
Untuk mencegah terjadinya kasus serupa di masa mendatang, Dinkes Tulungagung telah meningkatkan upaya sosialisasi kepada seluruh puskesmas agar lebih cepat dan akurat dalam mengidentifikasi gejala leptospirosis.
Selain itu, edukasi juga diberikan kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap gejala awal penyakit ini dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala yang mencurigakan.
“Tingkat CFR leptospirosis di Tulungagung saat ini mencapai angka yang mengkhawatirkan, yaitu 66,67 persen. Untuk pengobatan memang menjadi tanggung jawab Dinkes, tetapi dalam upaya pencegahan, kami sangat membutuhkan peran dari Dinas Pertanian karena penyakit ini erat kaitannya dengan populasi tikus di area pertanian,” pungkasnya.












