Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Birokrasi

Peningkatan penjualan emas menjelang lebaran

Ahmad Zaenul Mustaqim
×

Peningkatan penjualan emas menjelang lebaran

Sebarkan artikel ini

| LAMONGAN Memo coid – Menjelang Lebaran, penjualan emas perhiasan di sejumlah toko emas di Lamongan mengalami peningkatan signifikan. Kondisi ini dipengaruhi tradisi masyarakat untuk tampil memukau di momen hari raya Idulfitri, terutama bagi kaum hawa.

Pemilik Toko Perhiasan Emas di Pasar Baru Lamongan, Hj Nita yang punya Eka dwi mengungkapkan bahwa sejak masuk pekan terakhir ramadan, penjualan emas naik tajam. Menurut Wati, hal itu lumrah bahkan sudah menjadi tradisi menjelang lebaran.

Baca Juga: JUMAT BERSIH SMPN 1 Grogol Libatkan Seluruh Warga Sekolah

“Alhamdulillah ramai. Kalau Lamongan tradisinya setiap lebaran, emas itu bagaikan kacang goreng banyak dicari,” ungkap Mbk Nita kepada awak media Memo Kamis (28/3/2025).

Keuntungan penjualan perhiasan emas dalam momen lebaran bisa mencapai dua kali lipat atau 100 persen. Apalagi, beber Wati, lebaran tahun ini bersamaan dengan musim panen.

Baca Juga: Menteri PU Dody Hanggodo Berang Proyek Sekolah Rakyat di Nganjuk dan Kota Kediri Lamban, Beredar Isu Gratifikasi

“Kalau pembelian ya 100 persen pastinya, berbondong-bondong, apalagi ini waktunya panen, untuk pembeliannya macem-macem komplit ada yang cari kalung, gelang, cincin, ada juga yang cari satu set,” urainya.

Menurut Wati, tradisi belanja emas ini berlaku setiap tahun di momen lebaran. Perorang bisa menghabiskan Rp 10 sampai Rp 50 juta untuk belanja perhiasan emas.

Baca Juga: Layangkan Somasi!!! Begini Pernyataan LSM GAP Terkait Proyek Pembangunan Syeh Wasil Kota Kediri

“Karena tradisi, kalau lebaran emas itu laris manis. Dihitung belanja perorang, karena warga lamongan itu mampu dan tergolong kaya jadi setiap pembelian itu ada yang Rp 10 jt, Rp 15 juta sampai Rp 50 juta ada,” tuturnya.

Belanja besar-besaran akan perhiasan emas ini, lumrah karena saat musim panen warga cenderung berinvestasi ke emas, kemudian dijual kembali ketika waktu tanam tiba.

“Kalau penjualan nyaris tidak ada yang ada itu beli atau tukar tambah. Ramainya itu puncak biasanya H-3 makin ruamai,” terangnya.(sls)