NGANJUK,MEMO – Tingkat kepuasan pelayanan kesehatan di RSUD Kertosono dinilai masyarakat awam tergolong masih rendah. Itu terbukti ada sejumlah keluarga pasien mengaku sangat kecewa dengan layanan di rumah sakit milik daerah ini.
Itu terjadi pada Jumat malam (,30/05/2025) sekitar pukul 19.30 WIB tepatnya di ruang IGD telah terjadi keributan kecil antara keluarga pasien dengan dokter jaga.
Baca Juga: PC Muhammadiyah Kertosono Besok Tunaikan Sholat Ied Di Lima Titik

Keributan itu dipicu karena tidak hadirnya dr.Ricy Dani selaku dokter spesialis neurologi ( dokter syaraf) .di rumah sakit. Sehingga saat rumah sakit akan melakukan rujukan ke RSUD Dr,Soetomo dan RSAL terhadap pasien tumor otak bernama Ayudya Bagus,27, warga dari Desa Kudu Kecamatan Kertosono mengalami kesulitan.
Baca Juga: Ponpes Al Ubaidah Jadi Tuan Rumah Penutupan Safari Ramadan 1447 H/2026 M Pemkab Nganjuk
Untuk diinformasikan, Ayudya Bagus masuk IGD pada Jumat pagi (30/05/2025) sekitar pukul 08.40 WIB. Namun sampai jelang waktu dini hari atau pukul 23.30 WIB Ayudya belum mendapatkan kepastian dirujuk ke rumah sakit mana.

Baca Juga: SDP Ngudo Roso , 2026 Tahun Tantangan Untuk Desa
Hal itu yang akhirnya menyulut kemarahan Widodo ( paman Ayudya) tidak bisa terbendung. Lebih lebih pihak dokter jaga ( dr,Dinar) baru melakukan konfirmasi ke RSUD Dr.Soetomo pada pukul 19.30 WIB.
Kalimat pedas yang disampaikan Widodo kepada dokter jaga pada waktu itu adalah kalau dari awal pasien dipastikan tidak bisa mendapat tindakan operasi di rumah sakit Kertosono seharusnya dari pagi sejak pasien masuk IGD, dokter Ricy segera merespon untuk memerintahkan dokter jaga segera konfirmasi ke rumah sakit Dr.Soetomo.

Dengan realita itu dinilai Widodo, itu alasan yang tidak propesional. Hanya gara gara dokter Ricy terlambat memberi perintah ke dokter jaga sehingga konfirmasi ke RSUD Dr.Soetomo tidak bisa lebih awal.
” Ini menunjukkan hilangnya rasa kemanusiaan seorang dokter kepada keselamatan jiwa pasien.Jelas mengabaikan tugas dan tanggungjawab seorang dokter,” gerutu Widodo.
Yang lebih prihatin lagi masih kata Widodo melihat kondisi pasien semakin darurat hampir 11 jam hanya menunggu kepastian di rujuk ke rumah sakit mana.
” Pelayanan seperti ini sangat mengecewakan, apakah memang pasien BPJS diperlakukan beda dengan pasien umum, buat apa rumah sakit membuka layanan BPJS,” kata Widodo.

Untuk diinformasikan juga, ternyata kekecewaan layanan rumah sakit type C ini juga dirasakan seorang wanita pasien BPJS asal Desa Kedungrejo Kecamatan Tanjunganom.
Yang dikeluhkan SPY ( nama inisial pasien ) di tangan kanan bekas infus kalau digerakkan terasa sakit. Dimungkinkan saat perawat melakukan infus, jarumnya patah dan tertinggal di dalam otot.
” Saat saya tanya ke perawat katanya tidak apa apa itu hanya gangguan pembuluh darah,” tutur SPY.
Dengan temuan data ketimpangan layanan RSUD Kertosono terhadap dua pasien BPJS ( Ayudya dan SPY) seperti itu dimungkinkan masih ada daftar nama nama pasien BPJS yang mengalami nasib yang sama.
Untuk mengetahui perkembangan seputar nasib pasien BPJS di RSUD Kertosono tidak menerima layanan seperti pasien umum ikuti penelusuran wartawan memo.co.id untuk edisi selanjutnya. ( Adi )












