NGANJUK, MEMO – Sudah lazim dilakukan masyarakat pedesaan, setiap satu tahun sekali atau tepatnya bagdo musim panen padi wiwitan akan digelar perayaan budaya adat.
Salah satunya ditandai dengan tradisi sedekah bumi atau masyarakat desa menyebutnya dengan istilah ” nyadran”.
Baca Juga: PC Muhammadiyah Kertosono Besok Tunaikan Sholat Ied Di Lima Titik

Tradisi warisan leluhur itu merupakan implementasi wujud rasa syukur kepada Tuhan YME yang telah memberikan berkah agung berupa rejeki pangan yang berasal dari hasil bumi ( padi dan jagung).
Baca Juga: Ponpes Al Ubaidah Jadi Tuan Rumah Penutupan Safari Ramadan 1447 H/2026 M Pemkab Nganjuk
Untuk pelaksanaan upacara nyadran biasanya digelar di punden atau tempat dimakamkan ” Danyang Desa ” yang memiliki jasa besar sebagai orang pertamakali yang ” babat alas’ gong lewang lewung ( hamparan hutan) sampai jadi area perkampungan.

Baca Juga: SDP Ngudo Roso , 2026 Tahun Tantangan Untuk Desa
Rangkaian acara untuk meramaikan tradisi sedekah bumi di punden selain pemanjatan do’a dan kenduri ( Jawa,red) juga diisi beragam pagelaran seni tradisional jawa seperti Tayub, karawitan, wayang kulit, Langen bekso juga jenis seni tradisional lainnya.
Seperti halnya acara nyadran (tasyakuran bersih desa) yang digelar di Dusun Balongrejo Desa Balonggebang Kecamatan Gondang, Nganjuk pada hari ini ( Rebo Wage, 11/06/2025) cukup sakral dan meriah.

Ratusan warga tumplek blek di punden Sambi Kledek atau warga setempat menjuluki Mbah Murti dengan membawa sarana sedekah bumi berupa berkat dan tumpeng. Istimewanya lagi dalam acara bersih desa juga diramaikan kirab gunungan hasil bumi dengan keliling dusun.
” Tradisi ini adalah warisan murni para leluhur yang wajib untuk di uri uri. Karena ini wujud dari kepribadian pribumi yang berbudaya luhur,” ujar Camat Gondang,
Bayu Istas Sasongko S.STP. M.AP.

Sementara dikatakan Puguh Santoso salah satu warga Dusun Balongrejo berharap kepada pemerintah desa setempat untuk memberikan perhatian lebih kepada generasi milenial dikenalkan dengan budaya dan adat pribumi asli.
Yaitu dengan cara menganggarkan kegiatan edukasi budaya secara periodik. Tentunya bisa kerjasama dengan dinas pariwisata dan budaya Kabupaten Nganjuk.

” Langkah ini merupakan bentuk penyelamatan dan edukasi budaya yang wajib dikawal. Harapannya untuk penyelamatan budaya pribumi jangan sampai tergeser dengan budaya android,” harap Puguh Santoso . ( Adi )












