Example floating
Example floating
BLITAR

MWC NU Sutojayan Dibekukan, Para Kiai Justru Tetap Bergerak Merawat Umat

Prawoto Sadewo
×

MWC NU Sutojayan Dibekukan, Para Kiai Justru Tetap Bergerak Merawat Umat

Sebarkan artikel ini
Pengurus MWC Sutojayan memberikan potongan tumpeng kepada Kyai Arief Fuadi

“Pertama, ini solidaritas kepada sesama kiai dan pengurus MWC Sutojayan. Kedua, kami prihatin dengan kebijakan PC yang membekukan. Mestinya kalau ada perbedaan pandangan, ayo tabayun,” pesannya.

Nada serupa disampaikan perwakilan MWC NU Kanigoro melalui Wakil Ketua MWC, Kiai Ismail. Ia menyesalkan keputusan pembekuan yang dinilai mencederai semangat demokrasi organisasi.

Baca Juga: PSHT Kabupaten Blitar Murka! Pemkab Dituding Fasilitasi Kegiatan Ilegal Berkedok Halal Bihalal

“Bagi kami bukan soal siapa ketua PC-nya. Yang kami sayangkan NU-nya. Demokrasi mestinya dijaga. Setelah Kiai Arief Fuadi diganti dengan penunjukan—meski seolah-olah pemilihan—masa calon pemilihannya tinggal satu?” ujarnya bernada tanya.

Sementara itu, perwakilan Rois Syuriyah NU Ranting Sumberejo menyampaikan sikap yang lebih tegas.
“Kami ini ikut poro kiai. Sami’na wa atho’na. Kalau dulu yang menang Kiai Arief Fuadi, sekarang ketua cabang saya ya Kiai Arief,” tandasnya.

Baca Juga: Wali Kota dan Wakil Wali Kota Blitar: Efisiensi atau Sekadar Panggung Pencitraan?

Acara peringatan satu abad NU tersebut dihadiri ratusan warga Nahdliyin, serta unsur Forkopimcam seperti Kapolsek Lodoyo Timur, Danramil Sutojayan, dan Camat Sutojayan. Hadir pula tokoh masyarakat dan politik, di antaranya mantan anggota DPRD Kiai Ahmad Dardiri serta Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blitar Gus Rifai.

Dalam analoginya, Gus Rifai menyebut posisi Kiai Arief Fuadi layaknya atlet yang menang namun tak menerima penghargaan.
“Ibaratnya memenangkan pertandingan, tapi tidak menerima trofi,” ujarnya.

Baca Juga: Halal Bihalal PSHT Blitar, Seruan Perbaikan Diri Lahir dan Batin Menguat

Sedangkan Kiai Arief Fuadi sendiri, yang hadir sebagai tokoh sentral dalam peringatan tersebut, memilih menyampaikan pernyataan singkat namun bermakna.

“Kepengurusan di tingkat MWC ke bawah itu ujung tombak organisasi, sekaligus ujung tombok. Tidak ada yang digaji, tidak ada yang berebut jabatan. Ini murni perjuangan dan pengabdian untuk umat,” pungkasnya.**