Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Berita

Misteri Terungkap! TKA China Menguasai Pasar Kerja Indonesia?

Alfi Fida
×

Misteri Terungkap! TKA China Menguasai Pasar Kerja Indonesia?

Sebarkan artikel ini
Misteri Terungkap! TKA China Menguasai Pasar Kerja Indonesia?
Misteri Terungkap! TKA China Menguasai Pasar Kerja Indonesia?

MEMO

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, menanggapi kontroversi terkait klaim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tentang serbuan tenaga kerja asing (TKA) China yang disebutkan jauh melampaui nilai investasinya di Indonesia.

Dalam sebuah media briefing, Luhut menantang BRIN untuk memberikan data yang konklusif, sementara menjelaskan bahwa gaji tinggi TKA China sejalan dengan efisiensi perusahaan-perusahaan asal Negeri Tirai Bambu.

Bagaimana dinamika investasi dan ketenagakerjaan antara Indonesia dan China? Mari kita simak lebih lanjut.

Kontroversi Serbuan TKA China: Fakta dan Analisis Luhut Panjaitan

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, menantang data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyatakan bahwa jumlah tenaga kerja asing (TKA) dari China sangat besar dibandingkan dengan nilai investasinya di Indonesia.

Luhut, yang baru saja kembali bekerja setelah sakit, meminta peneliti tersebut untuk menunjukkan data yang mendukung klaim tersebut kepadanya.

“Dapatkah BRIN memberikan data yang jelas kepada saya? Saya ingin melihat angkanya. Jangan hanya berkata-kata,” katanya dalam konferensi media pada Jumat (22/12).

Mengenai upah yang tinggi bagi TKA China, Luhut menjelaskan bahwa investasi padat modal berbeda dengan investasi yang mempekerjakan banyak orang. Ada kemungkinan bahwa gaji yang lebih tinggi diberikan saat perusahaan membawa pekerja dari luar negeri untuk bekerja di Indonesia.

“Tiongkok memiliki perusahaan-perusahaan yang sangat efisien. Mereka mungkin membayar gaji yang lebih tinggi saat mereka membawa tenaga kerja dari luar,” katanya dengan tegas.

Luhut meragukan klaim bahwa ada banyak TKA China yang datang ke Indonesia, mengingat kecepatan dan efisiensi perusahaan-perusahaan di sana.

“Dalam beberapa bidang, kita akui bahwa mereka bekerja dengan lebih efisien dan cepat. Jadi saya tidak yakin bahwa China akan membawa banyak pekerjanya ke sini. Mungkin hal itu terjadi dalam bidang konstruksi yang membutuhkan kecepatan. Jadi, harap berikan data yang jelas kepada saya,” tambahnya.

Peneliti dari Pusat Riset Kependudukan BRIN, Triyono, melakukan penelitian tentang investasi China dan hubungan industrial di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah.

Triyono melaporkan bahwa investasi China tidak sebanding dengan jumlah TKA yang dibawa dari negara tersebut. Data mengenai pekerja asing itu diambil dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Kementerian Ketenagakerjaan.

Dia menyampaikan hal ini dalam diskusi tentang Relasi Indonesia-China dalam Era Belt and Road pada 26 Oktober lalu.

“Pada tahun 2022, TKA China berkontribusi sekitar 59.320 orang. Persentasenya mencapai 44,49%. Ini sangat mengejutkan, mengingat investasi China masih jauh kalah dengan Singapura,” ujar Triyono dalam video yang diunggah di kanal Youtube BRIN.

Perbandingan Investasi China vs Jumlah TKA: Apa yang Terungkap?

Menurut Triyono, investasi dari Singapura pada tahun yang sama mencapai US$13.281 juta, sementara jumlah TKA dari negara tersebut yang dibawa ke Indonesia hanya sebanyak 1.811 orang atau 1,35% saja.

Investasi dari China pada tahun yang sama menduduki peringkat kedua tertinggi dengan nilai US$8.226 juta, dan jumlah TKA yang dibawa ke Indonesia mencapai 59.320 orang.

Triyono menjelaskan bahwa mobilisasi TKA China ini terjadi karena model kapitalisme China yang khas.

“Model kapitalisme China ini didukung oleh sumber daya manusia yang besar, terutama tenaga kerja muda yang memiliki dedikasi dan semangat kerja yang tinggi,” katanya.

“Ini berdampak pada pengiriman tenaga kerja China setiap kali ada investasi. Ini menimbulkan berbagai masalah, seperti perlawanan dari serikat buruh atau masyarakat setempat,” tambah Triyono.

Dia juga menggarisbawahi perbedaan besar dalam upah antara pekerja lokal dan TKA China, yang sangat tinggi karena adanya Undang-Undang Ketenagakerjaan China yang diterbitkan pada tahun 2007.

“Menurut penelitian yang dilakukan oleh Li pada tahun 2023, setelah adanya undang-undang ini, upah buruh di China naik secara signifikan. Misalnya, dibandingkan dengan Indonesia, upah di China bisa mencapai 13 kali lipat lebih tinggi,” jelas Triyono.

Analisis Kritis: TKA China, Investasi, dan Upah Tinggi dalam Konteks Hubungan Indonesia-China

Meskipun kontroversi seputar jumlah TKA China di Indonesia, penelitian yang dilakukan oleh Triyono dari Pusat Riset Kependudukan BRIN menunjukkan ketidakproporsionalan antara investasi China dan jumlah pekerja asingnya.

Kontribusi TKA China mencapai 44,49%, sementara nilai investasi masih kalah dengan negara tetangga seperti Singapura. Mobilisasi TKA ini, menurut Triyono, merupakan hasil dari model kapitalisme China yang mengandalkan sumber daya manusia berkualitas tinggi.

Upah yang signifikan bagi TKA China juga menjadi sorotan, mencapai 13 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja Indonesia. Perbedaan ini disebabkan oleh Undang-Undang Ketenagakerjaan China tahun 2007.

Dengan dinamika ini, perlu dilakukan kajian lebih lanjut terkait dampaknya terhadap pasar kerja dan industri Indonesia.

 

Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini