MEMO – Sebuah babak baru dalam sejarah hubungan Indonesia-Jepang terjalin di Biak Numfor, Papua. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kebudayaan, dengan hangat menyambut tim perwakilan pemerintah Jepang. Pertemuan yang berlangsung di Galeri Bappeda, Jumat (7/3/2025), ini merupakan tindak lanjut dari permintaan tulus pemerintah Jepang untuk membawa pulang kerangka para tentara mereka yang gugur dalam Perang Dunia II di tanah Biak.
Falentinus Triwijaya Atmoko, seorang Pamong Budaya dari Kementerian Kebudayaan RI, menjelaskan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk memperbarui nota kesepahaman (MoU) dengan pemerintah daerah Biak Numfor terkait repatriasi kerangka para mantan tentara Jepang. Fokus utama pemerintah Jepang adalah menggali informasi dari masyarakat tentang penemuan sekitar 350 hingga 400 kerangka di area Monumen Paray, Bosnik, dan Goa Jepang Kampung Binsari.
“Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, tim gabungan dari pemerintah Jepang dan Indonesia mendatangkan ahli arkeometri. Mereka akan terjun langsung ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan, baik melalui analisis morfologi maupun morfometri, bahkan hingga analisis DNA, guna memastikan apakah kerangka yang ditemukan itu benar-benar milik tentara Jepang,” ungkap Falentinus.
Ia juga menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada pemerintah Biak Numfor atas sambutan hangat mereka terhadap upaya pemerintah Jepang untuk memulangkan kerangka para mantan tentaranya ke negara asal. “Kami melihat pemerintah daerah Biak sangat mendukung upaya ini, dan kami serta pemerintah Jepang sangat berterima kasih atas hal itu,” tuturnya.












