Example floating
Example floating
Home

Menteri Keuangan Pelajari Dampak Kabinet Gemuk di Era Prabowo Subianto

A. Daroini
×

Menteri Keuangan Pelajari Dampak Kabinet Gemuk di Era Prabowo Subianto

Sebarkan artikel ini
Menteri Keuangan Pelajari Dampak Kabinet Gemuk di Era Prabowo Subianto

“Ini akan memberikan beban tambahan bagi fiskal dan APBN kita,” ujarnya dalam sebuah diskusi virtual pada Rabu (16/10/2024).

Pada tahun 2024, belanja negara untuk 34 kementerian tercatat mencapai Rp 3.412,2 triliun, dengan alokasi belanja pegawai sebesar Rp 276,34 triliun. Sementara itu, anggaran belanja negara tahun 2025 diproyeksikan mencapai Rp 3.621,3 triliun, termasuk belanja pegawai sebesar Rp 297,71 triliun.

Baca Juga: Langkah Strategis Pemkab Magetan Dorong Sayur Lokal Masuk SPPG Siap Edukasi Petani Agar Sesuai PSAT BGN Demi Tingkatkan Ekonomi Daerah

Rizal menekankan bahwa proyeksi anggaran tersebut masih berdasarkan asumsi adanya 34 kementerian. Jika jumlah kementerian bertambah menjadi 46, diperlukan penyesuaian lebih lanjut. “Tidak mungkin anggaran belanja pegawai tetap lalu dibagi-bagi ke lebih banyak kementerian hingga jumlahnya kecil per kementerian, kan? Itu jelas tidak mungkin,” tambahnya.

Dampak Potensial Kementerian Tambahan Terhadap APBN di Era Prabowo

Penambahan kementerian di era kepemimpinan Prabowo Subianto berpotensi meningkatkan beban anggaran negara. Setiap kementerian baru memerlukan alokasi dana untuk gaji pegawai dan pembiayaan program, yang dikhawatirkan akan memperberat fiskal dan memicu peningkatan belanja pegawai.

Baca Juga: Umi Sjarifah, Pemred Media Sudut Pandang Raih Anugerah INDOPOSCO atas Dedikasi Jurnalistik

Proyeksi belanja negara untuk tahun 2025 telah dipatok pada angka Rp 3.621,3 triliun dengan alokasi belanja pegawai sebesar Rp 297,71 triliun. Namun, angka ini masih berdasarkan asumsi 34 kementerian. Jika jumlah kementerian bertambah, penyesuaian anggaran menjadi tantangan bagi pemerintah.

Sri Mulyani menegaskan bahwa kajian mendalam akan dilakukan sebelum keputusan final diambil. Pembagian anggaran yang proporsional dan efektif akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa peningkatan jumlah kementerian tidak mengganggu stabilitas fiskal dan keberlanjutan APBN.

Baca Juga: Kasus Temuan Janin Bayi di Kamar Kos kosan, Dicurigai Pemilik Kos Lewat Mimpi Ketemu Bayi Minta Digendong