Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Blitar

Mengenal Kecanggihan SI BATARI Inovasi RSUD Ngudi Waluyo

Prawoto Sadewo
×

Mengenal Kecanggihan SI BATARI Inovasi RSUD Ngudi Waluyo

Sebarkan artikel ini
Screenshot 20260716 140104 WhatsApp

Blitar, Memo.co.id

RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Kabupaten Blitar terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Salah satu terobosan yang kini dihadirkan adalah SI BATARI (Sistem Informasi Bidan Terintegrasi), sebuah sistem layanan yang menghubungkan rumah sakit dengan bidan wilayah, fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), Dinas Kesehatan, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil), serta berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam satu alur pelayanan yang terintegrasi.

Pendaftaran siswa baru
kuota terbatas, datang ke Jl KH Wahid Hasyim Tanjung Warujayeng

 

Inovasi ini lahir sebagai solusi atas berbagai kendala yang selama ini dihadapi dalam pelayanan kesehatan maternal, mulai dari lambatnya komunikasi rujukan pasien, keterlambatan penyampaian umpan balik kepada bidan wilayah, hingga proses administrasi kependudukan bayi baru lahir yang memerlukan waktu cukup lama.

 

Direktur RSUD Ngudi Waluyo, Endah Woro Utami mengatakan, SI BATARI bukan sekadar memanfaatkan teknologi informasi, tetapi juga menjadi upaya memperkuat koordinasi antarfasilitas kesehatan agar pelayanan kepada ibu hamil, ibu bersalin, dan bayi dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan berkesinambungan.

 

“Melalui SI BATARI kami ingin memastikan tidak ada lagi keterlambatan informasi dalam penanganan pasien. Ketika bidan wilayah menemukan ibu hamil dengan risiko tinggi, rumah sakit dapat menerima informasi lebih awal sehingga tim medis sudah siap memberikan penanganan terbaik sebelum pasien tiba. Setelah pasien selesai dirawat, hasil pemeriksaan dan rekomendasi tindak lanjut juga langsung kami sampaikan kembali kepada bidan wilayah dalam waktu maksimal 1×24 jam,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).

 

Ia menjelaskan, sebelum inovasi tersebut diterapkan, proses komunikasi rujukan masih dilakukan secara manual. Akibatnya, umpan balik dari rumah sakit kepada bidan wilayah baru diterima dalam waktu dua hingga tiga hari. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat pemantauan lanjutan terhadap pasien, terutama bagi ibu dengan kehamilan berisiko tinggi.

 

Kini, melalui sistem komunikasi digital SI BATARI, seluruh informasi mengenai kondisi pasien, hasil pemeriksaan, terapi, hingga rencana tindak lanjut dapat diterima bidan wilayah dalam waktu kurang dari 24 jam. Dengan demikian, pemantauan kesehatan ibu setelah kembali ke daerah asal dapat berlangsung lebih optimal.

 

Alur pelayanan dimulai sejak bidan wilayah melakukan deteksi dini terhadap ibu hamil yang memiliki faktor risiko. Data pasien kemudian dikirim melalui sistem SI BATARI kepada tim Klinik Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) serta ruang Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) RSUD Ngudi Waluyo. Informasi tersebut menjadi bekal bagi tenaga medis untuk mempersiapkan pelayanan sebelum pasien datang ke rumah sakit.

 

Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini