Nahasnya, Ji-ah dikabarkan ingin memutus hubungan dengan Choi. Detik-detik tragis itu terekam kamera CCTV, memperlihatkan Choi sempat berlutut di kaki korban, memohon agar hubungan mereka tetap berlanjut.
Ibu korban menceritakan detail yang didapat dari detektif, “Detektif menunjukkan rekaman CCTV pukul 3.27 sore, ketika Ji-ah hendak keluar dari mobil, namun seseorang menariknya kembali ke dalam. Tak lama setelah itu, pintu mobil menutup.”
Baca Juga: Waspada Modus Baru Narkoba Cair Dalam Vape Incar Generasi Muda Indonesia
Dugaan kuat, Ji-ah dibunuh sekitar 30 menit setelah sesi livestream selesai, dicekik hingga tewas akibat asfiksia atau tekanan pada leher, seperti yang dikonfirmasi polisi.
Setelah pembunuhan, saksi mata melihat Choi menarik koper besar dari rumahnya dan membawanya berpindah-pindah tempat. Puncak drama terjadi ketika koper berisi jenazah Ji-ah ditemukan di kawasan pegunungan Muju. Choi sempat melarikan diri, namun berhasil ditangkap 12 jam kemudian.
Baca Juga: Kepergok Hendak Cabuli Nenek 82 Tahun, Pria di Gowa Nyaris Diamuk Massa
Setelah sempat menyangkal, Choi akhirnya mengakui perbuatannya. Kasus ini menjadi pengingat mengerikan tentang risiko yang dihadapi para influencer, di mana batas antara penggemar virtual dan bahaya nyata menjadi sangat tipis dan tak terduga.












