Mengusung tema “Notoprojo Bersinergi Membangun Negeri”, Boyong Natapraja tahun ini tak hanya menjadi refleksi sejarah, tetapi juga semangat kebersamaan membangun masa depan. Tradisi Sedekah Bumi pun digelar meriah dengan 20 gunungan hasil bumi dari seluruh kecamatan di Nganjuk.
Gunungan ini menjadi lambang kesuburan dan kemakmuran yang dianugerahkan Sang Pencipta kepada Tanah Kota Angin.
Setelah dikirab, gunungan hasil bumi itu kemudian diperebutkan warga yang datang sebagai bentuk rasa syukur dan partisipasi rakyat dalam menjaga kelestarian budaya.
Bupati Marhaen menegaskan pentingnya melestarikan tradisi boyong sebagai bagian dari identitas dan jati diri Kabupaten Nganjuk.
Baca Juga: Terdidik Jiwa Nasionalis, SDP Jadi Denyut Nadi Wong Alit

“Boyong bukan sekadar prosesi, melainkan bentuk penghormatan atas sejarah yang membentuk kita. Kita lanjutkan warisan ini sebagai pengingat bahwa Nganjuk dibangun dengan kebersamaan dan semangat gotong royong dari masa ke masa,” tegasnya.
Tradisi Boyong Natapraja adalah cerminan budaya yang tidak hanya adiluhur, tetapi juga menjadi inspirasi dalam menata pemerintahan dan kehidupan masyarakat dengan nilai-nilai kebijaksanaan, persatuan, serta rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta. ( adii )












