Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Abata

Kiai Makruf Amin dan Kiai Imam Jazuli Kritik Aturan Pengurus Jelang Muktamar NU

A. Daroini
×

Kiai Makruf Amin dan Kiai Imam Jazuli Kritik Aturan Pengurus Jelang Muktamar NU

Sebarkan artikel ini
Kiai Makruf Amin dan Kiai Imam Jazuli Bedah Aturan Main Muktamar NU

Bahaya Memisahkan Kekuatan Kultural dan Struktural

Langkah memisahkan urusan politik dengan organisasi secara kaku dinilai bisa berujung fatal. Ada kekhawatiran skenario ini sengaja digulirkan pihak luar demi menggerogoti posisi tawar kaum nahdliyin.

“Saya pikir pasal tersebut harus dikoreksi sebab memisahkan politik NU dan ormas NU secara diametral atau berhadap-hadapan adalah upaya pihak tertentu untuk melemahkan kekuatan NU di hadapan negara dan pemerintah,” tegas Kiai Imam Jazuli.

Pendaftaran siswa baru
kuota terbatas, datang ke Jl KH Wahid Hasyim Tanjung Warujayeng

Kiai Makruf Amin pun menitipkan pesan mendalam bagi para elite yang bakal bertarung. Beliau meminta pilar struktural organisasi tidak boleh lepas dari akar rumputnya di pesantren.

“NU itu memiliki kekuatan kultural dan struktural. Kedua kekuatan ini jangan sampai dipisahkan. Pesantren adalah sentral kekuatan kultural NU. Kebesaran kekuatan NU yang sebenarnya berada di kultural,” bisik Kiai Makruf Amin.

Sinergi PKB dan Urusan Logistik Buta

Hubungan emosional antara PKB dan organisasi induknya juga ikut dibahas dalam ruang diskusi. Kedua tokoh sepakat bahwa partai politik wajib menjadi penyambung lidah yang efektif bagi warga nahdliyin di parlemen.

“Kami memiliki visi dan misi yang sama untuk menciptakan hubungan yang harmonis dan sinergis antara PKB dan NU, sebab partai politik adalah alat untuk menyampaikan aspirasi warga NU,” tambah Kiai Imam Jazuli.

Pertemuan diakhiri dengan tukar kado sarat makna spiritual tinggi. Kiai Makruf menyodorkan buku pemikiran terbarunya, sedangkan Kiai Imam membalasnya dengan sebilah keris Tilam Upih tangguh sepuh era Majapahit berpamor Tirto Tumetes. Simbol doa agar ketenteraman dan berkah terus mengalir tanpa putus di tubuh organisasi.

Kiai Makruf Amin mengingatkan petuah penting bagi seluruh pengurus. “Melandasi kiprah di NU dengan bashiroh atau kecerdasan mata hati, bukan dengan bisyaroh alias insentif material.”