Dalam penjelasannya kemudian, Dedy berusaha meluruskan. Ia menegaskan bahwa penyebutan “nabi” tidak selalu harus diartikan secara literal sebagai penerima wahyu ilahi seperti dalam pemahaman Islam atau Kristen. Ia berpendapat bahwa kata “nabi” juga sering digunakan secara kiasan atau simbolik dalam perbincangan filsafat, sastra, dan tafsir sosial.
“Tidak perlu banyak orang untuk mengawali pemikiran,” ujarnya, membela pandangannya. Dedy membandingkan Jokowi dengan tokoh-tokoh besar seperti Nelson Mandela yang awalnya dianggap “pengacau” sebelum kemudian disebut “pembawa cahaya rekonsiliasi,” atau Mahatma Gandhi yang dianggap “aneh” sebelum dunia menyebutnya “nabi tanpa senjata.”
Baginya, karakter kenabian bisa tercermin dari seseorang yang “mampu menjaga integritas, sabar dalam difitnah, tidak membalas kebencian dengan kebencian, dan tetap memimpin dengan ketenangan.” Oleh karena itu, jika hanya satu orang yang melihat Jokowi memiliki sifat kenabian, itu sah sebagai penilaian pribadi berbasis nilai-nilai etis.
Jokowi Sebagai “Simbol Politik Baru” dan Misi Khusus untuk Indonesia
Polemik ini bukan kali pertama Dedy Nur Palakka menunjukkan kekaguman luar biasa terhadap Jokowi. Sebelumnya, pada pertengahan Mei 2025, Dedy juga meyakini bahwa segala upaya untuk menjatuhkan nama baik Jokowi tak akan pernah berhasil.
“Tokoh politik dalam gambar ini sulit dijatuhkan karena ia telah mengakar dalam realitas dan pikiran rakyat Indonesia,” tulisnya, menyebut Jokowi sebagai “simbol politik baru” yang membawa pengaruh signifikan di Indonesia.
Menurut Dedy, kekuatan Jokowi terletak pada “laku hidup” atau aktivitas otentik yang ia jalani, tidak terpengaruh kesilauan kekuasaan, dan senantiasa ingin berbagi pengalaman hidup langsung bersama rakyat. Dedy bahkan mengklaim mendapatkan informasi “jauh melampaui A1” mengenai sepak terjang Jokowi, yang membuatnya sangat tertarik mengikuti perjalanan politik sang Presiden.
Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum
Lebih jauh lagi, Dedy meyakini bahwa Jokowi adalah sosok spesial yang sedang menjalankan “misi khusus untuk Indonesia” dalam pendekatan spiritual. Ia berharap, kelak Jokowi bisa menjadi ketua umum PSI, yang menurutnya akan melahirkan “gaya berpolitik baru” dengan semangat “politik blusukan bareng warga.”
Kontroversi ini menjadi cermin bagaimana narasi politik bisa bergeser ke ranah yang sangat personal, bahkan spiritual. Pujian yang melampaui batas kewajaran dapat memicu perdebatan sengit, terutama ketika menyentuh konsep-konsep sakral yang sensitif di tengah masyarakat majemuk.












