PAM di bawah kepemimpinan Oemargatab tidak hanya berperan dalam peristiwa Madiun, tetapi juga aktif menanggulangi berbagai gerakan separatis lain di Indonesia, seperti Gerakan APRA Westerling. Laporan-laporan kepada pemerintah terkait gerakan-gerakan ini seringkali menyertakan tanda tangan Oemargatab.
Transformasi Intelijen dan Kehidupan Akhir Oemargatab
Pada tahun 1951, PAM bertransformasi menjadi Dinas Pengawasan Keselamatan Negara (DKPN), dan Oemargatab tetap dipercaya untuk memimpin badan intelijen di bawah kepolisian tersebut. Dalam catatan Ken Conboy pada buku Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia (2007), Oemargatab juga tercatat sebagai anggota penting Badan Koordinasi Intelijen (BKI) yang dibentuk pada 5 Desember 1958.
Baca Juga: Jeritan Gadis Belia di Balik Mimpi Sekolah dan Tirai Kemiskinan Hingga Cita cita Teracun
Karir Oemargatab di DPKN berakhir ketika Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo lengser dari jabatannya sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia pada tahun 1959, sebuah pergantian yang disebut Muradi bernuansa sangat politis.
Moehammad Oemargatab menghabiskan masa tuanya di kawasan Menteng, Jakarta, tepatnya di sebelah studio Radio Prambors. Takdir seolah mempertemukan kembali jejaknya dengan sang putra, Indrodjojo Kusumonegoro, yang kelak menjadi penyiar di radio tersebut sebelum dikenal luas sebagai pelawak dan pemeran film. Kisah hidup sang ayah ini, menegaskan bahwa darah pejuang dan pengabdi negara mengalir dalam diri Indro Warkop.












