Example floating
Example floating
SURABAYA RAYA

IPK Melambung, Kualitas Terkikis? Menguak Sisi Gelap Kapitalisme Pendidikan

Ferdi Ragil
×

IPK Melambung, Kualitas Terkikis? Menguak Sisi Gelap Kapitalisme Pendidikan

Sebarkan artikel ini
IPK Melambung, Kualitas Terkikis Menguak Sisi Gelap Kapitalisme Pendidikan

Surabaya, Memo
Fenomena inflasi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di perguruan tinggi telah menjadi perbincangan hangat, memicu kekhawatiran serius tentang kualitas lulusan. Angka-angka di transkrip nilai seolah semakin mudah digapai, namun apakah ini benar-benar mencerminkan peningkatan kompetensi mahasiswa? Prof. Dr. Tuti Budirahayu, Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga (UNAIR), tanpa ragu menunjuk biang keladinya: kapitalisme pendidikan dan tekanan akreditasi.

“Perguruan tinggi hari ini dipaksa bermain dalam logika pasar—mereka harus menerima dan meluluskan mahasiswa sebanyak-banyaknya. Inilah wajah lain dari kapitalisme pendidikan,” tegas Prof. Tuti pada Selasa (15/7/2025). Pernyataan ini membuka mata kita pada realitas bahwa institusi pendidikan, alih-alih berfokus murni pada pengembangan kualitas, seringkali terbebani target kuantitas demi menjaga eksistensi dan daya saing.

Baca Juga: Kolaborasi dengan Pemprov Jatim, YDSF Dukung Pondok Ramadhan untuk Disabilitas Pendengaran

Menurut Prof. Tuti, dorongan untuk memberi nilai tinggi tak lepas dari upaya kampus untuk menjaga akreditasi dan citra di mata publik. Sebuah IPK rata-rata yang tinggi diyakini dapat mendongkrak reputasi dan menarik lebih banyak calon mahasiswa. Namun, praktik ini berisiko menciptakan ilusi kompetensi. Mahasiswa mungkin lulus dengan IPK cemerlang, tetapi sejatinya belum sepenuhnya siap menghadapi tantangan dunia kerja yang sesungguhnya.

“IPK memang penting, itu tidak bisa dimungkiri. Tapi, itu bukan segalanya,” tukas Prof. Tuti. Ia menekankan bahwa kompetensi riil, pengalaman berorganisasi, dan kontribusi di luar kelas adalah aspek-aspek krusial yang kerap terpinggirkan dalam sistem penilaian saat ini. Pendidikan seharusnya menciptakan individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga adaptif, inovatif, dan berdaya saing.

Baca Juga: Mantan Kades Ambal Ambil Pasuruan Divonis Penjara Akibat Korupsi Dana Desa

Melihat kondisi ini, Prof. Tuti mengusulkan perlunya sistem penilaian yang lebih menyeluruh. Sebuah sistem yang mampu menangkap performa mahasiswa secara utuh, tidak hanya dari hasil ujian, tetapi juga dari proyek nyata, partisipasi aktif, dan kemampuan soft skill yang berkembang selama masa studi. Ini akan menjadi langkah penting untuk mengakhiri paradoks inflasi IPK tanpa peningkatan kualitas.

Ia juga menegaskan keyakinannya terhadap integritas dosen. “Selama mahasiswa menunjukkan kemampuan dan usaha, dosen pasti akan menilai secara adil,” katanya. Namun, Prof. Tuti juga melempar tantangan balik kepada para mahasiswa: buktikan bahwa IPK tinggi Anda memang sepadan dengan kualitas dan kapabilitas asli yang Anda miliki. Sebab, pada akhirnya, dunia nyata akan menuntut lebih dari sekadar angka di atas kertas. (Ferdi)

Baca Juga: Ular Piton 5 Meter Teror Warga Tandes Surabaya Masuk Kandang Ayam