Di tengah reruntuhan dan hamparan lumpur kelabu, harapan itu masih bersemi. Dusun Kebonagung, yang biasanya tenang dengan lanskap perbukitan yang hijau, kini diselimuti duka setelah amukan tanah longsor memorak-porandakan kediaman warganya. Enam nyawa masih dalam dekapan bumi, dan akses menuju dusun itu, urat nadi kehidupan puluhan keluarga, terputus total.
Selasa pagi (20/05/2025), mentari Kediri mulai menghangatkan bumi, namun dingin masih terasa di Desa Depok, Kecamatan Bendungan. Bukan hanya dinginnya hawa pegunungan, tapi juga dinginnya kecemasan yang menyelimuti hati para keluarga yang menanti kabar orang terkasih. Jalan utama menuju Kebonagung bak labirin tanah dan pepohonan tumbang, saksi bisu dahsyatnya terjangan longsor sehari sebelumnya.
Di garis depan perjuangan menembus isolasi ini berdiri Nanang Pujo, Koordinator Pos Basarnas Trenggalek. Wajahnya menyimpan guratan lelah namun sorot matanya penuh determinasi. Bersama 135 personel gabungan, ia memimpin operasi yang bukan hanya soal mencari jasad, tapi juga tentang membuka kembali harapan bagi sebuah komunitas yang terenggut kehidupannya.
“Untuk mencapai titik longsor, kami harus berjalan kaki hampir satu jam,” tutur Nanang, suaranya berbaur dengan deru mesin alat berat yang baru tiba di kaki bukit. “Medannya sangat menantang. Tanah masih labil, setiap langkah harus diperhitungkan.”
Perjalanan menuju titik nol bukan sekadar adu fisik, tapi juga adu strategi. Tiga alat berat didatangkan, monster-monster besi yang diharapkan mampu mengoyak timbunan tanah yang menggunung. Namun, medan curam dan sempitnya jalur memaksa operator bekerja ekstra hati-hati. Setiap gesekan bucket adalah harapan yang terkadang tersendat bebatuan dan batang pohon raksasa.
Di antara hiruk pikuk alat berat dan komando petugas, terlihat wajah-wajah cemas warga sekitar. Mereka tak bisa berbuat banyak selain menunggu di kejauhan, mengirimkan doa-doa lirih yang semoga saja didengar semesta. Kabar dari Kebonagung bagai tetesan air di gurun kerinduan.
Tim Aju, barisan pertama para penyelamat, telah menjejakkan kaki di zona merah. Mereka melaporkan pemandangan yang memilukan: rumah-rumah yang dulunya berdiri kokoh kini rata dengan tanah, tertutup lumpur cokelat pekat. Jejak-jejak kehidupan seolah lenyap ditelan bumi.
“Kami bekerja manual, menggunakan alat seadanya,” lanjut Nanang. “Selain itu, kami juga akan mencoba menggunakan Alkon. Semprotan air bertekanan tinggi ini diharapkan bisa membantu meluruhkan lumpur dan mempercepat pembersihan area.”
Tiga titik longsor menjadi fokus utama. Masing-masing menyimpan cerita pilu dan tantangan tersendiri. Ada yang tertutup longsoran besar bercampur pepohonan, ada pula yang terkubur dalam lautan lumpur licin. Setiap meter kubik material yang berhasil disingkirkan adalah secercah harapan untuk menemukan jejak enam saudara yang hilang.
Di tengah keputusasaan, semangat pantang menyerah para relawan dan petugas gabungan patut diacungi jempol. Mereka bahu-membahu, tanpa mengenal lelah, demi sebuah misi kemanusiaan. Malam akan kembali datang, namun semangat mereka tak boleh padam.
Kabar dari Kebonagung memang pilu. Tiga rumah hilang, rata dengan tanah. Namun, di balik timbunan tanah itu, tersimpan pesan dari warga yang bertahan: “Tolong buka jalan kami.” Mereka yang selamat kini terisolasi, hanya bisa berjalan kaki untuk sekadar mencari bantuan atau kabar.
Harapan masih ada, meski tersembunyi di balik lumpur dan reruntuhan. Setiap ayunan cangkul, setiap deru alat berat, adalah ikhtiar untuk mengembalikan kehidupan di Kebonagung. Sebuah dusun yang kini tengah berjuang untuk bangkit dari keterpurukan, menanti uluran tangan dan doa dari seluruh penjuru negeri. Di sana, di balik timbunan tanah, asa untuk menemukan kembali yang hilang masih terus menyala.












