Example floating
Example floating
BLITAR

Gus Iqdam Rangkul DJ Terompet dalam Dakwah Sabilut Taubah Blitar

A. Daroini
×

Gus Iqdam Rangkul DJ Terompet dalam Dakwah Sabilut Taubah Blitar

Sebarkan artikel ini

Blitar, Memo

Fenomena “sound horeg” dan keberadaan DJ dalam acara publik kerap menjadi pemicu perdebatan sengit, khususnya di kalangan masyarakat religius. Namun, di tengah pusaran kontroversi ini, Gus Iqdam, pengasuh Majelis Taklim Sabilul Taubah, tampil dengan sikap yang tegas namun tetap merangkul.

Baca Juga: Solid dan Humanis, PSHT Letting 2025 Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Aksi Ramadan

Ia tidak hanya menjelaskan asal-usul “DJ Terompet” yang viral, tetapi juga secara lugas memposisikan keberadaan DJ demi menjaga moral dan etika sosial.

Cerita bermula saat Gus Iqdam menjadi bintang tamu podcast. Pertanyaan seputar “kok pengajian Gus Iqdam ada DJ-nya?” langsung menyeruak. Gus Iqdam buru-buru meluruskan, bahwa yang dimaksud bukanlah DJ seperti di diskotek, melainkan “opening” pembukaan majelis yang menggunakan musik terompet khas dengan iringan hadrah. “Bukan ‘horeg’ wudu ‘horeg’ opening, pembukaan,” tegasnya, menekankan perbedaan mendasar dari persepsi awal.

Baca Juga: Refleksi Setahun Pemkot Blitar: 70 Penghargaan hingga Tantangan Pangkas APBD 80 Persen

Namun, di balik melodi terompet itu, tersembunyi problematika yang lebih besar. Sekitar tahun 2018, sound horeg tengah menjadi primadona di Kediri, marak digunakan di berbagai acara lapangan, seringkali dilengkapi dengan DJ dan penari berbusana minim.

Praktik ini memicu kegelisahan luar biasa. Tokoh agama, termasuk Gus Iqdam, sangat keberatan. Bukan hanya karena kebisingan, melainkan juga karena penampilan penari yang kurang etis dan sistem tiket masuk yang memungkinkan siapapun, termasuk anak-anak, dengan mudah mengakses tontonan yang tidak pantas.

Baca Juga: Bos Wisata Kampung Coklat Beri THR kepada 7.000 Peserta Pengajian

“Dikhawatirkan anak-anak kecil itu menganggap hal-hal seperti itu tuh menjadi hal yang biasa,” ungkap Gus Iqdam dengan nada prihatin.

“Ketakutan kami, kalau itu jadi budaya, 10 tahun ke depan, anak-anak yang menyaksikan itu akan punya cita-cita jadi penari di atas sound. Moral bangsa ini lama-kelamaan bisa hancur.” Penegasan ini menunjukkan kekhawatiran mendalam Gus Iqdam terhadap degradasi moral jika fenomena ini dibiarkan tanpa batas.

Solusi Konkret: Mengarahkan, Buka Mematikan Rezeki

Gus Iqdam tidak memilih jalur konfrontasi nmati-matian. Ia justru memilih dialog. Dengan para pemilik sound yang kebanyakan adalah rekan-rekannya, ia berdiskusi mencari titik temu. Meskipun ada keluhan soal investasi miliaran rupiah pada sound system, Gus Iqdam menawarkan solusi: “Silakan pakai sound, tapi jangan ada wanita penari yang kurang pantas.”

Dari diskusi inilah lahir strategi dakwah yang kreatif. Alih-alih menghadirkan DJ dengan penari profesional, majelis Sabilul Taubah menghadirkan “dancer-dancer” ala Gus Iqdam sendiri — jamaah majelis yang beraksi dengan atraksi pencak silat dan penampilan kocak.

Ini adalah cara cerdas untuk mengalihkan massa yang terbiasa menonton ‘horeg’ dan DJ di lapangan, agar beralih ke majelis, tanpa mematikan rezeki para pemilik sound.

Ketegasan Posisi DJ dan Rekonsiliasi Sosial

Gus Iqdam mempertegas posisinya terkait DJ: ia tidak mendukung keberadaan DJ di luar tempat semestinya. “Sekarang DJ-DJ itu kembali ke tempatnya, ke diskotek,” ujarnya lugas. Ia meyakini bahwa setiap hal memiliki “SOP” dan tempatnya sendiri.

Di diskotek, aksesnya terbatas, berbeda dengan di lapangan terbuka yang dapat dijangkau oleh semua kalangan, termasuk mereka yang pulang bekerja atau anak-anak. Ia bahkan mengisahkan transformasi Pak Roni, mantan pemilik diskotek besar di Kediri, yang kini berhijrah dan aktif di majelisnya, sebagai bukti keberhasilan pendekatan persuasif ini.

Kini, berkat komunikasi dan arahan tegas Gus Iqdam, pemandangan acara sound horeg dengan tiket dan penari di lapangan nyaris tidak ada lagi. Para pemilik sound system pun semakin rukun dan siap ber-khidmah di majelis kapan saja dibutuhkan.

“Alhamdulillah, ini berkah dari komunikasi yang baik,” simpul Gus Iqdam. Pesan utamanya adalah pentingnya memberi solusi, bukan hanya menghujat. Bagi Gus Iqdam, ini adalah kunci untuk menjaga persatuan dan kebaikan bangsa. “Indonesia ini PR-nya cuma satu: Rukun,” tegasnya, mengakhiri ceramah dengan pesan persatuan yang kuat.