“Kami ucapkan terima kasih kepada Pak Guntur Wahono, pelestari seni tradisi tiban sekaligus pembina seni tiban meliputi Kabupaten Blitar dan Kabupaten Tulungagung,” ujarnya.
Menurut orang nomor satu di Pemkab Blitar ini, seni tiban sudah menjadi seni tradisi turun temurun dalam rangka musim kemarau untuk berdoa kepada Tuhan dalam meminta turunya hujan.
Baca Juga: Safari Ramadan NasDem di Blitar, Saan Mustopa Serukan Persatuan di Pusara Bung Karno
“Kami mendukung para pecinta seni tradisi dalam melestarikan budaya bangsa. Kalau sekarang ini, tiban tidak hanya memohon turunnya hujan, juga turunnya kesejahteraan, keselamatan, dan rejeki yang melimpah buat masyarakat,” kelakar Rijanto.
Dia mengingatkan bahwa di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, seni dan budaya tradisional dapat menjadi benteng yang menjaga jati diri bangsa.
Baca Juga: Ngopi Ramadan Jadi Panggung Evaluasi Kritis, Reformasi Struktural Jadi Tuntutan Kota Blitar
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Tiban adalah kekayaan yang harus terus hidup agar anak cucu kita tahu dari mana mereka berasal,” tutur Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar tersebut.
Tak hanya itu, Rijanto juga melihat potensi besar yang terkandung dalam pagelaran ini, khususnya dalam mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Menurutnya, pentas Tiban bisa menjadi magnet wisata yang mampu mendongkrak pergerakan ekonomi lokal, terutama bagi pelaku UMKM.
Baca Juga: Solid dan Humanis, PSHT Letting 2025 Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Aksi Ramadan
“Tradisi seperti Tiban bisa menghadirkan manfaat ganda. Di satu sisi menjaga warisan budaya, di sisi lain membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil,” pungkasnya. **












