“Moderasi Beragama adalah praktik keberagamaan yang inklusif, adil, dan berimbang,” tegas Dr. Jumali, sambil menganalogikan pesantren sebagai laboratorium sosial keberagaman.
Ia menjelaskan bahwa santri terbiasa dididik dalam lingkungan yang kaya akan pluralitas. Di lingkungan pesantren, perbedaan pandangan, baik dalam aspek mazhab (fiqih), latar belakang suku, hingga pandangan politik, adalah realitas yang dihidupi sehari-hari. Dalam kerangka berpikir keilmuan, perbedaan (khilaf) tersebut tidak pernah dipandang sebagai ancaman yang memecah belah.
Baca Juga: PKK Rejotangan Dorong Ketahanan Keluarga, Soroti Lonjakan Perceraian di Tulungagung
“Di pesantren, perbedaan tidak dianggap ancaman, tetapi sumber pembelajaran yang justru memperkaya khazanah keilmuan (tsaqafah) dan memperluas wawasan keagamaan,” papar Dr. Jumali.
Kapasitas Dr. Jumali sebagai Kepala Dinas yang membidangi kearsipan dan perpustakaan memberikan perspektif unik mengenai pentingnya tradisi keilmuan di kalangan santri. Ia melihat bahwa budaya literasi dan mudzakarah (diskusi ilmiah) di pesantren sejalan dengan upaya pelestarian ilmu pengetahuan dan memajukan peradaban.
Baca Juga: Mantan Wabup Blitar Jadi Korban Penipuan, Terpidana Mulia Wiryanto jadi Buron
Oleh karena itu, Dr. Jumali berharap agar semangat Hari Santri Nasional 2025 dapat terus mendorong santri dan alumni pesantren untuk menjadi agen terdepan dalam menjaga integritas kebangsaan dan mempromosikan Islam yang moderat, toleran, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa kehilangan akar tradisi dan nilai-nilai luhur keindonesiaan.
“Selamat Hari Santri Nasional 2025. Mari jadikan momentum ini sebagai energi baru untuk terus berkontribusi nyata bagi Blitar, Jawa Timur, dan Indonesia,” pungkasnya.
Baca Juga: Tinggalkan Kendaraan Bermotor, PUPR Blitar Bangun Budaya Kerja Ramah Lingkungan












