Blitar, memo.co.id
Terkuaknya dugaan praktik pungutan liar (pungli) di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar setelah dibongkar media memicu gelombang reaksi dan kepanikan sejumlah pihak. Alih-alih fokus pada substansi persoalan, tekanan justru mengarah pada upaya meredam pemberitaan yang telah menyedot perhatian publik.
Baca Juga: PT TUN Jakarta Kuatkan Putusan Sengketa PSHT, Tim Hukum Sebut SK 2019 Tetap Sah
Mirisnya, tekanan tersebut malah datang dari salah satu oknum Anggota DPRD Kota Blitar. Sikap oknum anggota dewan tersebut dinilai sejalan dengan pernyataan Dewan Pengawas (Dewas) RSUD Mardi Waluyo yang sebelumnya menyebut kasus tersebut hanya isu lama dan tidak terbukti. Pernyataan itu menuai kritik karena disampaikan tanpa didahului proses klarifikasi mendalam, hearing dengan keluarga korban, maupun pembentukan panitia khusus (pansus).
Ironisnya, setelah keluarga korban secara terbuka menyampaikan bahwa praktik pungli memang terjadi, suara bantahan dari Dewas dan oknum dewan tersebut pun mendadak meredup.
Baca Juga: KONI Kabupaten Blitar Dorong Penyelesaian Konflik IPSI Demi Atlet Porprov
Menanggapi hal tersebut, salah satu awak media dengan tegas menyatakan sikap.
“Pantang bagi media kami melakukan take down. Kalau keberatan, saya hanya melayani hak jawab,” tegasnya.
Baca Juga: Ratusan Anggota PSHT Geruduk DPRD Kabupaten Blitar, Tuntut Penertiban Organisasi Ilegal
Atas seluruh apresiasi, kritik, dan masukan yang diterima, penulis media menyampaikan terima kasih kepada semua pihak.
“Semoga media tetap konsisten dan berani berada di garda terdepan mengungkap kebobrokan di sekitar kita, demi terwujudnya tata kelola pemerintahan yang bersih dan berintegritas di Kota Blitar,” imbuhnya.
Seiring menguatnya pemberitaan, penulis berita justru “kebanjiran” puluhan karangan bunga digital berupa pesan apresiasi yang masuk melalui aplikasi WhatsApp. Dukungan tersebut datang dari berbagai pihak yang menilai pengungkapan kasus ini sebagai langkah berani dan penting.
Yang mengejutkan, mayoritas pesan dukungan tersebut diduga kuat berasal dari internal rumah sakit sendiri. Para pegawai secara terbuka mengapresiasi keberanian media yang berani membuka aib yang selama ini mereka nilai sengaja ditutup rapat.












