Blitar, memo.co.id
Terkuaknya dugaan praktik pungutan liar (pungli) di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar setelah dibongkar media memicu gelombang reaksi dan kepanikan sejumlah pihak. Alih-alih fokus pada substansi persoalan, tekanan justru mengarah pada upaya meredam pemberitaan yang telah menyedot perhatian publik.
Baca Juga: Deteksi Dini Penyakit Penting, Nurhadi Ajak Masyarakat Blitar Rutin Skrining Kesehatan
Mirisnya, tekanan tersebut malah datang dari salah satu oknum Anggota DPRD Kota Blitar. Sikap oknum anggota dewan tersebut dinilai sejalan dengan pernyataan Dewan Pengawas (Dewas) RSUD Mardi Waluyo yang sebelumnya menyebut kasus tersebut hanya isu lama dan tidak terbukti. Pernyataan itu menuai kritik karena disampaikan tanpa didahului proses klarifikasi mendalam, hearing dengan keluarga korban, maupun pembentukan panitia khusus (pansus).
Ironisnya, setelah keluarga korban secara terbuka menyampaikan bahwa praktik pungli memang terjadi, suara bantahan dari Dewas dan oknum dewan tersebut pun mendadak meredup.
Baca Juga: Berbagi di Bulan Ramadan, Polsek Sananwetan Bagikan Takjil untuk Pengendara
Menanggapi hal tersebut, salah satu awak media dengan tegas menyatakan sikap.
“Pantang bagi media kami melakukan take down. Kalau keberatan, saya hanya melayani hak jawab,” tegasnya.
Baca Juga: BGN Turun Tangan, Puluhan SPPG di Blitar Raya Ditutup Karena Tak Penuhi Standar
Atas seluruh apresiasi, kritik, dan masukan yang diterima, penulis media menyampaikan terima kasih kepada semua pihak.
“Semoga media tetap konsisten dan berani berada di garda terdepan mengungkap kebobrokan di sekitar kita, demi terwujudnya tata kelola pemerintahan yang bersih dan berintegritas di Kota Blitar,” imbuhnya.
Seiring menguatnya pemberitaan, penulis berita justru “kebanjiran” puluhan karangan bunga digital berupa pesan apresiasi yang masuk melalui aplikasi WhatsApp. Dukungan tersebut datang dari berbagai pihak yang menilai pengungkapan kasus ini sebagai langkah berani dan penting.
Yang mengejutkan, mayoritas pesan dukungan tersebut diduga kuat berasal dari internal rumah sakit sendiri. Para pegawai secara terbuka mengapresiasi keberanian media yang berani membuka aib yang selama ini mereka nilai sengaja ditutup rapat.
“Terima kasih atas keberanian media mengungkap ke publik. Kami sudah sering melaporkan ke manajemen, tapi tidak pernah ditanggapi,” tulis salah satu pegawai RSUD Mardi Waluyo dalam pesannya.
Pegawai tersebut bahkan menegaskan, mustahil manajemen tidak mengetahui praktik menyimpang yang disebut telah berlangsung bertahun-tahun.
“Omong kosong kalau dibilang tidak tahu. Lha wong karyawannya sendiri yang melaporkan, tapi tidak pernah direspons,” tulisnya dengan nada geram.
Seiring bergulirnya pemberitaan, pesan dukungan terus berdatangan. Nada yang muncul beragam, mulai dari harapan akan perubahan hingga kritik keras terhadap sikap manajemen rumah sakit.
“Perubahan itu memang pahit di awal. Kapan lagi kalau tidak sekarang. Selamat buat media, sukses selalu dan jaya,” tulis pegawai lainnya.
Tak sedikit pula yang menyoroti sikap manajemen yang dinilai defensif dan cenderung menutup-nutupi persoalan.
“Kalau manajemen serius, tidak perlu cari bukti dari luar. Tinggal gali dari karyawan yang pernah melapor kasus pungli di ruang cuci darah. Tapi faktanya, laporan itu diabaikan. Begitu mencuat ke publik, baru semua ribut. Semakin ditutupi, justru satu per satu terbongkar. Pernyataan dewas yang orang baru itu malah blunder, sok tahu,” tulis pesan bernada ketus.
Banjirnya apresiasi dari internal rumah sakit ini justru memperkuat dugaan bahwa informasi awal berasal dari “orang dalam”, sebelum kemudian diperkuat oleh kesaksian keluarga korban yang mengaku mengalami langsung praktik pungli tersebut.
Namun di tengah derasnya dukungan, muncul pula pihak-pihak yang merasa terusik. Beberapa oknum anggota DPRD Kota Blitar disebut bereaksi keras dan meminta agar pemberitaan tersebut diklarifikasi, bahkan mendesak agar berita diturunkan.
“Jangan-jangan ini hanya oknum RSUD yang asal bicara dan memberi pernyataan tidak benar. Kalau terbukti tidak benar, berita itu harus di-take down,” tulis salah satu pesan yang diterima penulis.**












