Example floating
Example floating
BLITAR

Dibekukan PCNU, MWC Sutojayan Justru Banjir 1.000 Jamaah di Pengajian Ahad Pon!

Prawoto Sadewo
×

Dibekukan PCNU, MWC Sutojayan Justru Banjir 1.000 Jamaah di Pengajian Ahad Pon!

Sebarkan artikel ini

Blitar, memo.co.id
Meski kepengurusan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sutojayan dibekukan oleh PCNU Kabupaten Blitar, hal tersebut tidak menyurutkan semangat jamaah dalam menggelar kegiatan keagamaan. Pengajian umum rutin Ahad Pon yang digelar di Masjid NU Sutojayan, Minggu (15/2/2026), justru berlangsung meriah dan dihadiri sedikitnya seribu jamaah.

Tak sekadar pengajian, kegiatan ini juga dibarengi bhakti sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap umat. Mulai pembagian sayuran gratis, doorprize, donor darah, hingga pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis yang dilayani tim medis dari RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.

Baca Juga: Deteksi Dini Penyakit Penting, Nurhadi Ajak Masyarakat Blitar Rutin Skrining Kesehatan

Ratusan jamaah tampak antusias memanfaatkan layanan kesehatan gratis tersebut. Suasana kebersamaan dan kekompakan terlihat jelas sejak pagi hari.

Pengajian rutin Ahad Pon kali ini menghadirkan penceramah KH Prof Dr KH Maskuri, MSi, Rektor Universitas Islam Malang (UNISMA). Dalam tausiyahnya, ulama asal Malang tersebut menekankan pentingnya menjaga kerukunan di tengah perbedaan pandangan.

Baca Juga: Berbagi di Bulan Ramadan, Polsek Sananwetan Bagikan Takjil untuk Pengendara

“Kegiatan rutin peningkatan ibadah, menjalin kebersamaan sesama jamaah akan lebih bermakna daripada meributkan kepengurusan. Karena yang di bawah inilah aksi nyata melakukan pembinaan kegiatan untuk umat. Sedangkan pengurus yang di atas di antaranya hanya mengurusi administrasi,” pesannya.

Maskuri juga mengingatkan para jamaah agar meluruskan niat dalam beribadah. Ia menegaskan, tujuan utama menghadiri pengajian adalah mencari ridho Allah SWT, bukan semata-mata karena pembagian bantuan.

Baca Juga: BGN Turun Tangan, Puluhan SPPG di Blitar Raya Ditutup Karena Tak Penuhi Standar

“Khusus ibu-ibu datang pengajian jangan hanya ingin mendapatkan sayuran dan doorprize gratis. Niatkan ke majelis untuk mendapatkan ridho Allah SWT atas ibadah yang kita lakukan dengan keikhlasan hati,” imbuhnya.

Ketua MWCNU Sutojayan, H Sudja’i, menegaskan bahwa pembekuan kepengurusan tidak berdampak pada kegiatan ibadah di tingkat bawah. Menurutnya, jamaah tetap solid dan kompak.

“Ahad Pon pengajian umum kita gelar dengan berbagai acara. Di antaranya pembagian sayuran, bhakti sosial hingga pengobatan kesehatan gratis. Ini bentuk nyata pengabdian kami kepada umat dan para jamaah,” ujarnya.

Sudja’i juga menyinggung dinamika organisasi yang tengah terjadi. Ia menilai, perbedaan pendapat dalam NU adalah hal lumrah, namun budaya pecat-memecat bukanlah tradisi di tubuh organisasi tersebut.

“Pembekuan dan pembentukan pengurus baru di MWC NU bukan budaya kita. Kecuali sudah habis masa bhakti, baru direorganisasi. Apa yang dilakukan oknum pengurus PC NU Kabupaten hanya memecah-belah umat yang kondisinya sudah solid. Sebab bila di tingkat MWC dibekukan, seluruh ranting juga bisa meminta hak yang sama,” tuturnya.

Senada, pengurus MWC Ahmad Dardiri menyayangkan tidak diresponsnya niat tabayun dari MWC Sutojayan kepada PCNU.

“Polemik ini harus segera diakhiri. Kita harus duduk bersama membahas kemajuan organisasi ke depan. Bukannya malah membekukan MWC, ini bentuk nyata arogansi dan memecah umat yang sudah solid di bawah,” tandas mantan wakil rakyat tersebut.

Pengajian umum tersebut juga dihadiri Camat Sutojayan, Arinal Huda. Mantan ajudan Bupati Blitar Hery Nugroho itu menyampaikan apresiasinya terhadap kekompakan jamaah dan kepedulian sosial yang ditunjukkan MWC Sutojayan.

“Ini patut kita banggakan. Hanya ada satu di Kabupaten Blitar yang memakai nama Masjid NU, ya di Sutojayan ini. Karena itu, kami mementingkan ibadah dan ukhuwah sesama jamaah. Kalau soal politik dan organisasi kami tidak faham. Apa yang dilakukan MWC Sutojayan, kami bersama Forpimcam mendukungnya, karena ini bentuk pengabdian terhadap umat,” ujarnya.

Di tengah dinamika organisasi yang terjadi, pengajian Ahad Pon di Sutojayan justru menjadi bukti bahwa soliditas jamaah di tingkat bawah tetap terjaga. Ibadah, kebersamaan, dan kepedulian sosial menjadi pesan kuat yang menggema dari Masjid NU Sutojayan.**