Sucipto tidak hanya berfokus pada menjaga kesehatan dan produktivitas kawanan kelincinya, tetapi juga menumbuhkan harapan dalam setiap siklus panen. Dengan bobot yang dapat mencapai 5 kilogram per ekor untuk ukuran dewasa, kelinci-kelincinya menjadi komoditas daging berkualitas tinggi. Harga jualnya pun bervariasi, mulai dari Rp35.000 hingga Rp45.000 per kilogram dalam kondisi hidup, dan melonjak hingga Rp75.000 per kilogram jika sudah dalam kondisi bersih tanpa kulit.
“Kelinci siap dipanen ketika usianya mencapai tiga bulan atau lebih. Biasanya, para pelanggan datang langsung ke kandang untuk membeli dagingnya,” jelasnya mengenai mekanisme penjualan.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Peternakan Berkah Bersama Sejahtera, dari Rp20 Juta Menjadi Aset Rp80 Miliar
Minimnya persaingan di sektor peternakan kelinci di wilayahnya justru menjadi katalisator semangat bagi Sucipto. Ia menggeluti dunia ini secara totalitas, bahkan kini basis pelanggannya telah meluas hingga ke berbagai daerah di luar Trenggalek, mencakup Ponorogo, Pacitan, bahkan hingga Nganjuk. Kisah sukses Sucipto membuktikan bahwa di tengah kesederhanaan dan jauh dari keramaian, potensi ekonomi tetap dapat tumbuh subur berkat kegigihan dan keuletan.












