Trenggalek, Memo |
Di lereng pegunungan Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, tersembunyi sebuah kandang sederhana yang jauh dari kebisingan perkotaan. Di sanalah, siklus kehidupan baru terus bersemi. Satu demi satu, anak-anak kelinci dilahirkan dalam keheningan, tumbuh dengan damai, dan pada akhirnya, menjelma menjadi sumber rezeki bagi pemiliknya: Sucipto (37), seorang warga Dusun 09 RT 03, Desa Srabah.
Bukan tanpa alasan Sucipto menamai sentra usahanya dengan sebutan unik “Kandang Kelinci Belis”. Di tempat itulah, pada tahun 2017, ia merintis jejaknya hanya dengan modal awal 30 ekor kelinci, tanpa pernah membayangkan akan sepenuhnya terjun sebagai peternak profesional.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Peternakan Berkah Bersama Sejahtera, dari Rp20 Juta Menjadi Aset Rp80 Miliar
Namun, berkat ketekunan dan kesabaran yang tak kenal lelah, kini ia seorang diri mengelola populasi kelinci yang mencapai lebih dari 200 ekor. Suara lembut gerak-gerik kelinci telah menjadi melodi sehari-hari yang menemaninya dalam merawat, melakukan perkawinan silang untuk menghasilkan bibit unggul, hingga melakukan proses penyembelihan hewan-hewan tersebut untuk kemudian dipasarkan.
“Awal mula saya membangun peternakan ini adalah pada tahun 2017, dengan memelihara sekitar 30 ekor kelinci. Kala itu, saya belum memiliki niatan untuk menjadikannya sebagai mata pencaharian utama,” kenangnya, mengenang awal perjalanannya.
Baca Juga: Hijaukan Ruang Sempit, Cuan Mengalir Deras, Kisah Sukses Panen Microgreen di Tengah Ibu Kota
Sucipto tidak hanya berfokus pada menjaga kesehatan dan produktivitas kawanan kelincinya, tetapi juga menumbuhkan harapan dalam setiap siklus panen. Dengan bobot yang dapat mencapai 5 kilogram per ekor untuk ukuran dewasa, kelinci-kelincinya menjadi komoditas daging berkualitas tinggi. Harga jualnya pun bervariasi, mulai dari Rp35.000 hingga Rp45.000 per kilogram dalam kondisi hidup, dan melonjak hingga Rp75.000 per kilogram jika sudah dalam kondisi bersih tanpa kulit.
“Kelinci siap dipanen ketika usianya mencapai tiga bulan atau lebih. Biasanya, para pelanggan datang langsung ke kandang untuk membeli dagingnya,” jelasnya mengenai mekanisme penjualan.
Baca Juga: Pecah Belenggu Mitos Bisnis, Jurus Ampuh Raih Sukses Tanpa Harus Tunggu 'Wangsit' Modal
Minimnya persaingan di sektor peternakan kelinci di wilayahnya justru menjadi katalisator semangat bagi Sucipto. Ia menggeluti dunia ini secara totalitas, bahkan kini basis pelanggannya telah meluas hingga ke berbagai daerah di luar Trenggalek, mencakup Ponorogo, Pacitan, bahkan hingga Nganjuk. Kisah sukses Sucipto membuktikan bahwa di tengah kesederhanaan dan jauh dari keramaian, potensi ekonomi tetap dapat tumbuh subur berkat kegigihan dan keuletan.












