Bos Startup di Indonesia Rela Memangkas Gaji Sendiri demi Bertahan di Tengah Tantangan Ekonomi
Baca Juga: TMMD ke-127 Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Pemkab Kediri Juga Bekali Warga Olahan Ikan Lele
Pengorbanan Gaji Demi Bertahan!
Dorongan bagi startup kini lebih pada efisiensi guna mencapai profitabilitas. Dampaknya tak hanya terbatas pada gelombang PHK besar-besaran di dunia startup, tetapi juga terasa di Indonesia, di mana banyak bos startup yang mengurangi gajinya sendiri.
Menurut laporan terbaru dari Monks Hill Ventures dan Glints yang berjudul Startup Talent Trends Report 2024, sebanyak 29 persen dari CEO startup yang disurvei mengalami pemotongan gaji sepanjang tahun 2023.
Langkah ini diambil para bos startup untuk memangkas biaya dan menjaga ketersediaan kas agar perusahaannya bisa bertahan lebih lama tanpa harus mengandalkan modal baru dari investor.
Sebagian besar, sekitar 55 persen, dari bos startup melakukan pemotongan gaji mereka sendiri sebesar 11 persen hingga 30 persen. Namun, ada juga yang memangkas gajinya sendiri hingga 80 persen.
“Tren pemotongan gaji para pemimpin level C dalam startup diperkirakan akan terus berlanjut hingga 2024 karena perlambatan ekonomi yang masih berlangsung,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Pemotongan Gaji CEO Startup hingga 80 Persen
Melalui survei yang dilakukan di Singapura, Indonesia, Vietnam, dan Taiwan, Glints dan Monks Hill Ventures mendapatkan data yang mencengangkan.
Meskipun laporan tidak menyediakan detail standar gaji bagi bos startup di Indonesia, namun data yang diberikan mengenai gaji di luar Singapura cukup menggambarkan gambaran.
Menurut laporan tersebut, bos startup yang sudah berhasil menggalang dana hingga US$ 5 juta (sekitar Rp 78,5 miliar) rata-rata menerima gaji sebesar US$ 4.000 per bulan atau sekitar Rp 62,8 juta. Sedangkan gaji CEO, CTO, dan COO di startup dengan akumulasi penggalangan dana antara US$ 6 juta hingga US$ 10 juta adalah US$ 5.700 per bulan atau sekitar Rp 89,52 juta.
Untuk startup yang berhasil mengumpulkan dana antara US$ 11 juta hingga US$ 50 juta, gaji bulanan yang diterima rata-rata mencapai US$ 6.200 (sekitar Rp 97,38 juta). Sebagai perbandingan, di Singapura, startup pada level yang sama memberikan gaji rata-rata sebesar US$ 19.500 per bulan (sekitar Rp 306,28 juta).
Perlambatan Ekonomi Dorong Bos Startup Indonesia Memotong Gaji Sendiri: Tren dan Tantangan di Tahun 2024
Startup di Indonesia menghadapi tantangan besar untuk bertahan di tengah perlambatan ekonomi. Laporan terbaru dari Monks Hill Ventures dan Glints mengungkapkan bahwa 29 persen CEO startup mengalami pemotongan gaji pada tahun 2023.
Mayoritas dari mereka, sekitar 55 persen, memotong gaji mereka sendiri sebesar 11 hingga 30 persen. Tren ini diperkirakan akan berlanjut hingga 2024, menunjukkan komitmen para bos startup untuk menjaga ketersediaan kas demi kelangsungan bisnis mereka.
Meskipun demikian, ada tantangan lain seperti ketidakpastian ekonomi yang perlu diatasi agar startup dapat terus berkembang dan berkontribusi pada perekonomian Indonesia.












