MEMO, Bondowoso –
Bumi Ki Ronggo mendadak jadi sorotan setelah inventarisasi cagar budaya terbaru mencatat angka fantastis. Bondowoso Jadi Gudang Batu Purba Terbanyak Sebanyak 1.423 peninggalan masa megalitikum tersebar di wilayah ini. Angka tersebut otomatis mengukuhkan Kabupaten Bondowoso sebagai rajanya situs purba di Jawa Timur.
Situs-situs kuno ini uniknya tidak menumpuk di satu titik saja.
Batu-batu besar warisan zaman prasejarah tersebut malah tersebar acak di berbagai kecamatan, bahkan posisinya menyatu langsung dengan area pemukiman warga setempat.
Warisan Prasejarah Terbanyak se-Jatim
Kepala Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Gede Budiawan, membenarkan temuan masif tersebut. Pihaknya terus memperbarui data lapangan setiap kali ada benda purbakala baru yang terkuak oleh tim ahli.
“Kalau yang terdata saat ini ada 1.423. Itu yang sudah masuk dalam pendataan kami,” cetus Gede, Minggu (5/7/2026).
Melihat rekam data yang sangat masif, daerah ini memang tidak punya lawan sepadan di tingkat provinsi untuk urusan koleksi batu purba.
“Kalau dikatakan terbanyak di Jawa Timur, bisa dikatakan demikian. Karena memang dari data yang kami miliki, jumlahnya sangat signifikan,” tambahnya.
Tantangan Branding Wisata Sejarah
Banyak, tapi belum tenar.
Gede mengakui ribuan aset sejarah ini belum sepenuhnya mampu mendongkrak identitas utama Bondowoso di mata publik luas. Nilai arkeologi yang tinggi terkesan masih jalan di tempat untuk urusan sumbangsih ekonomi kreatif.
“Itu memang tantangan kami. Kita punya banyak, tapi belum sepenuhnya menjadi ikon yang kuat. Padahal potensinya sangat besar,” akunya blak-blakan.
Kolaborasi Jaga Cagar Budaya
Aset sekaya ini jelas butuh pengawasan ekstra ketat agar tidak rusak atau dijarah. Disparbudpora Bondowoso akhirnya menggandeng Balai Pelestarian Kebudayaan (BPKW) Wilayah Trowulan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, hingga mengoptimalkan peran para juru pelihara di lapangan.
“Peran juru pelihara ini sangat penting untuk memastikan situs tetap terjaga,” urai Gede.
Ke depan, arah kebijakan pemkab bakal digeser ke sektor pariwisata edukasi berbasis sejarah. Harapannya, pelestarian ini bisa sejalan dengan peningkatan isi dompet warga sekitar lokasi cagar budaya.
“Bagaimana megalit ini bisa memberi manfaat lebih bagi masyarakat sekitar, itu yang sedang kami dorong. Tidak hanya dilestarikan, tapi juga dimanfaatkan secara berkelanjutan,” tutupnya.
Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini












