Menurut Beathor, seluruh strategi dan persiapan dokumen dilakukan secara rahasia di sebuah rumah di Cikini. Widodo, yang disebut-sebut sebagai aktor kunci dalam dugaan pencetakan ini, kini menghilang sejak isu ijazah Jokowi diangkat dalam buku kontroversial karya Bambang Tri.
Beathor Suryadi juga mengklaim bahwa mantan Gubernur Lemhannas dan tokoh PDIP, Andi Widjajanto, disebut pernah melihat langsung dokumen ijazah Jokowi yang dicurigai tidak otentik.
Baca Juga: Isu Ijazah Jokowi Kembali Memanas, Andi Widjajanto Beri Klarifikasi Tegas
Beathor menyebut Andi menyaksikan dokumen tersebut saat masa pencalonan Jokowi di Pilpres 2014. Namun, menurut Beathor, ijazah yang dilihat Andi merupakan cetakan ulang tahun 2012 yang digunakan untuk keperluan Pilgub DKI Jakarta.
Respons Ferdinand Hutahaean: Mengakui Kejanggalan dan Reputasi Pasar Pramuka
Menanggapi klaim Beathor Suryadi, politikus PDIP lainnya, Ferdinand Hutahaean, memilih untuk tidak langsung membenarkan tuduhan seniornya itu. “Tapi saya tidak bisa mengatakan apakah yang dikatakan Beathor itu benar atau tidak.
Baca Juga: GEMPAR! Sidang Impor Gula Seret Nama Jokowi, Tom Lembong Ungkap Perintah Langsung Presiden
Tetapi, semua kejanggalan patut kita pertanyakan dan jadikan bukti apakah memang Jokowi pernah selesai kuliah atau tidak,” ujar Ferdinand, menunjukkan sikap hati-hati namun tetap membuka ruang pertanyaan.
Meskipun demikian, Ferdinand mengakui kemungkinan Jokowi pernah mengenyam pendidikan tinggi. Namun, mengenai kepemilikan ijazah, ia masih mempertanyakannya. “Kalau soal pernah kuliah yah kita akuilah pernah. Tapi apakah selesai? Kan ini yang menjadi pertanyaan untuk kita semua,” kata Ferdinand.
Baca Juga: Di Balik Kabut Isu, Deretan Dugaan Kasus yang Membayangi Jokowi dan Lingkarannya
Ferdinand, yang juga merupakan alumni Universitas Bung Karno yang letaknya tidak jauh dari Pasar Pramuka, secara lugas mengakui bahwa kawasan tersebut memang memiliki reputasi tersendiri dalam hal pembuatan dokumen. “Kalau soal ijazah dicetak di Pramuka, kan memang Pramuka itu dulu ramai sangat terkenal di sana semua dibikin,” sebutnya.
Ia bahkan menambahkan, “Jangankan ijazah, dokumen perusahaan pun dibikin di sana dulu, lengkap di sana mau bikin apa aja ada.” Pernyataan Ferdinand ini seolah menguatkan narasi tentang reputasi Pasar Pramuka sebagai pusat pembuatan dokumen, terlepas dari kebenaran spesifik klaim Beathor terkait ijazah Jokowi.
Apakah klaim Beathor ini akan memicu penyelidikan lebih lanjut atau hanya akan menjadi perdebatan politik semata? Publik tentu menantikan kejelasan atas isu yang kembali mencuat ini.












