MEMO – Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, baru-baru ini mengungkap fakta mengejutkan bahwa Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) menjadi sasaran serangan siber yang cukup serius pada akhir pekan lalu. Lebih mencengangkan lagi, para pelaku peretasan tersebut dikabarkan meminta tebusan dengan nilai fantastis, mencapai US$10 juta atau setara dengan Rp165,9 miliar, sebagaimana dilansir dari South China Morning Post.
Serangan ini tidak hanya melumpuhkan sejumlah operasional penting bandara, tetapi juga memicu kekhawatiran mendalam terkait keamanan siber dan keselamatan para penumpang. Menanggapi situasi genting ini, Anwar dengan tegas menyatakan penolakannya terhadap tuntutan para peretas.
“Tidak mungkin negara ini akan aman jika para pemimpin dan sistemnya membiarkan diri kita tunduk pada ultimatum dari para kriminal dan pengkhianat, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri,” ujar Anwar dengan nada mantap pada hari Selasa (25/3/2025).
Pernyataan Anwar ini menjadi konfirmasi resmi pertama dari pemerintah Malaysia terkait adanya serangan siber yang menimpa KLIA. Hingga saat ini, identitas para pelaku masih menjadi misteri, dan belum ada kejelasan pasti mengenai apakah serangan siber tersebut telah sepenuhnya berhasil diatasi.
Sebelumnya, mantan anggota parlemen Wee Choo Keong sempat mengungkapkan bahwa sistem di KLIA mengalami kelumpuhan total selama kurang lebih 10 jam. Akibatnya, pihak maskapai penerbangan terpaksa memperbarui informasi penerbangan secara manual menggunakan papan tulis berukuran besar.
Malaysia Airports Holdings Berhad (MAHB) bersama dengan Badan Keamanan Siber Nasional telah mengonfirmasi bahwa serangan siber ini memang berdampak pada sistem komputer tertentu di bandara. Mereka pun bergerak cepat dengan meluncurkan investigasi mendalam untuk mengukur sejauh mana dampak dari insiden tersebut.
Direktur pelaksana MAHB, Mohd Izani Ghani, menyatakan bahwa pihaknya tengah bekerja sama erat dengan berbagai pihak terkait untuk memastikan operasional bandara dapat kembali berjalan lancar. Tim teknis dan operasional terus memantau perkembangan situasi dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan.
Anwar menegaskan bahwa pemerintah Malaysia akan terus berupaya keras untuk melindungi infrastruktur penting negara dan tidak akan menyerah pada ancaman serangan siber. Sementara itu, MAHB memastikan bahwa layanan penerbangan tetap berjalan seperti biasa, dengan penerapan langkah-langkah darurat untuk meminimalisir dampak dari serangan tersebut.
Pemerintah Malaysia berkomitmen penuh untuk meningkatkan pertahanan siber negara dan memastikan bahwa kepercayaan publik terhadap keamanan bandara tetap terjaga. Proses penyelesaian kasus ini masih berlangsung, dan hasil investigasi nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam menghadapi ancaman serangan siber di masa depan.
Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini












