Dari pihak sekolah, kekecewaan juga datang dari Restu Hapsari Rahayu, Penanggung Jawab MBG SMPN 4 Kota Blitar.
“Kami tidak meminta dirapel, kami hanya penerima manfaat. Alangkah kagetnya, biasanya kami menerima menu siap saji, kok sekarang telurnya dibagikan mentah,” ujarnya.
Baca Juga: SPPG Tlumpu Disorot, Menu MBG di SMAN 1 Kota Blitar Dinilai Tak Layak, IPAL Bermasalah
Sementara itu, pihak dapur SPPG memberi penjelasan. Ahmad Habibi, Kepala Dapur SPPG YASB Sananwetan, mengatakan bahwa masalah bahan makanan merupakan domain suplier.
“Soal bahan makanan itu kewenangan mitra suplayer atau yayasan. Hal ini sudah saya koordinasikan dengan suplayer karena banyak komplin. Kami juga membantu pedagang lokal dengan membeli bahan alternatif, contohnya saat musim mangga kami kasih buah mangga,” jelasnya.
Baca Juga: Era Digital dan Tantangan Akurasi, Jairi Irawan Gelar Diskusi Bersama Jurnalis Blitar
Skandal ini juga mengundang reaksi keras dari pemerhati Program MBG, H. Usman, yang menilai ada indikasi pelanggaran hukum.
“Ini jelas penyimpangan dan ada dugaan perbuatan melawan hukum. Kami meminta aparat penegak hukum melakukan penyelidikan secara komprehensif kepada dapur-dapur nakal,” tegasnya.**
Baca Juga: Retribusi atau Pungli? Jalur Perbatasan Blitar–Malang Disorot












