NGANJUK, MEMO – Sesuai fakta sejarah, dari 18 desa di wilayah Kecamatan Pace, Nganjuk, Jawa Timur tercatat ada salah satu desa yang berhasil mengharumkan nama Kabupaten Nganjuk menjadi tersohor karena kontribusi kesenian tradisionalnya. Desa tersebut adalah Desa Kepanjen.
Kesenian tradisional yang lahir sejak 1910 di desa tersebut adalah kesenian ” Wayang Timplong “. Patut dibanggakan lagi hingga saat ini kesenian Jawa kuno tersebut tetap eksis dan masih diminati oleh kalangan generasi melinial.
Selain mewariskan kesenian Wayang Timplong, sepertinya di Desa Kepanjen di bawah kepemimpinan Sugeng Purnomo tampaknya masih banyak ragam budaya atau tradisi lokal terus dilestarikan hingga saat ini.
Salah satunya adalah tradisi ” nyadran ” atau masyarakat awam menyebutnya dengan istilah bersih desa. Tradisi tersebut bisa dimaknai lahir tanpa akhir.Artinya sampai kapanpun tidak akan tergeser atau mengalami degradasi karena perubahan jaman.
” Tradisi ini sudah ada sejak berabad abad lamanya hingga sekarang masih utuh dan bisa dinikmati oleh para pewaris tradisi. Terbukti para generasi now sampai sekarang masih menguri uri kabuddayan Adi luhung ,” ucap Kades Kepanjen,Sugeng Purnomo.
Lurah Geng panggilan akrab laki laki bertubuh tinggi besar yang juga menjabat sebagai Ketua Persaudaraan Kepala Desa Indonesia ( PKDI) Cabang Nganjuk ini kepada wartawan memo.co.id membeberkan kenapa tradisi ini masih eksis tidak ditinggalkan oleh masyarakat ?. Jawabannya satu karena kekuatan cintanya terhadap budayanya sendiri sangat kuat.
” Ini bukti bahwa dari cinta akan melahirkan kerukunan dan persaudaraan yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Cinta budaya sama halnya cinta leluhur dan bangsa,” ujar Lurah Geng lugas.
Untuk diketahui acara nyadran di Desa Kepanjen berlangsung setiap satu tahun sekali atau paska panen kedua polowijo. Tepatnya jatuh pada hari Jumat legi.
Nyadran sebagian besar masyarakat pedesaan memaknai sebagai wujud syukur atas nikmat dan hidayah yang sudah diberikan oleh sang pencipta berupa murah sandang lan pangan.
Pengamalanya sujud syukur tersebut , masyarakat berkumpul dan berdoa bersama di satu tempat yang dianggap keramat atau masyarakat menyebutnya punden.
Di tempat keramat tersebut saat acara masyarakat sudah menjadi adat membawa makanan dan buah buahan. Bukan persembahan tapi niat shodaqoh sebagai wujud syukur atas nikmat yang sidah diterimanya.
Dalam acara puncak nyadran nanti masih kata Lurah Geng , pemdes akan menggabungkan acara Agustusan dengan bersih desa di bulan September.
Untuk acara bersih desanya menampilkan pagelaran wayang Purwo sedalu natas. Sementara acara Agustusan seperti tahun tahun sebelumnya di handle panitia.
Diinformasikan juga bahwa Desa Kepanjen dikenal sebagai Pusat Pelestarian Wayang Timplong: Desa Kepanjen terkenal sebagai salah satu pusat pelestarian kesenian Wayang Timplong, kesenian tradisional khas Nganjuk yang diciptakan sekitar tahun 1910. Keberadaan tokoh spiritual seperti Mbah Panji turut melatarbelakangi kuatnya akar budaya dan tradisi di desa tersebut.(Adi)












